Yang Harus Terkatakan…

Tulis Komentar

Kalau saya tanya, “Apakah kamu memiliki suatu tujuan?”

Pasti semua akan menjawab, “Punya!”

Tapi kalau ditanyakan, “Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?”

Mungkin jawabannya bisa beragam. Saya punya banyak sekali tujuan, impian, atau mungkin juga khayalan. Saya memang tipe orang yang suka berangan-angan. Eits, tapi angan-angan saya insya Allah bukan angan-angan kosong yang bertepuk sebelah tangan.

Alhamdulillah, salah satu angan-angan dan tujuan terbesar dalam hidup saya sudah Allah kabulkan. Tepat tanggal 10 Muharram 1431 H, angan-angan saya itu terwujud. Kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini, “Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?”

Seberapa banyak?

Saya ingat benar ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 2. Niat untuk menikah muda sudah saya simpan dalam memori saya yang menunggu untuk diwujudkan. Setahun kemudian, ketika saya duduk di kelas 3, saya ikrarkan di depan guru-guru saya niat tersebut. Tidak hanya niat yang saya ikrarkan, tapi juga waktu mengenai kapan tepatnya niat itu pasti akan terwujud.

Nekat? Kepedean? Ah, tidak juga. Waktu itu saya katakan kepada guru-guru saya kalau saya akan menikah sebelum saya lulus kuliah. Saya bertekad untuk menjalani KKN. Kuliah, kerja, nikah. Pada saat itu mungkin saja orang-orang yang mendengar tekad saya tersebut cuma menganggapnya sebagai guyonan. Maklum, terkadang kalimat guyonan saya dengan kalimat serius hanya beda-beda tipis.

Setahun kemudian, ketika masih tahap-tahap awal menginjakkan kaki di dunia perkuliahan, angan-angan tersebut kembali saya asah. Saya katakan ke teman-teman saya kalau saya akan menikah sebelum lulus. Bukannya saya kepedean, tapi sebenarnya saya hendak mencari siapa-siapa yang kira-kira sepaham, semisi, dan memiliki angan-angan yang sama dengan saya. Tapi sepertinya tidak ada.

Mungkin ada yang berpikir mengenai kesiapan saya untuk menikah. Pekerjaan salah satunya. Orang baru lulus SMA kok udah kepingin nikah. Mau ngasih makan apa ke istri nanti? Tapi Alhamdulillah, siapa sangka 3 bulan setelah lulus SMA saya mendapat pekerjaan. Gak jauh-jauh, sekolah saya yang jadi kantor pertama saya sebelum hijrah ke sebuah kantor di daerah Mangga Dua hingga kini.

Saat itu saya langsung dipanggil salah satu wakil direktur yayasan sekolah tempat saya bekerja. Ternyata pihak sekolah merasa tertarik dengan website yang saya buat. Dulu, sewaktu teman-teman saya sibuk dan belajar keras untuk UN SMA, saya malah asik-asik belajar mengembangkan website. Sebagian waktu saya tersita di depan internet dibanding untuk belajar kala itu. Tapi inilah yang menjadi awal mula gerbang terwujudnya cita-cita saya. Setelah mendapat pekerjaan itu, salah seorang guru saya langsung mengatakan, “Kamu udah boleh menikah sekarang!”

Maaf, saya sadar cerita ini sudah cukup panjang, bahkan kalau saya terus menggerakkan jari ini untuk bercerita tentu akan semakin panjang dan mungkin bisa saja memunculkan bibit kesombongan di hati ini. Padahal masih banyak hal lain yang ingin saya bicarakan dibanding sekedar bercerita. Singkatnya di akhir cerita, Alhamdulillah angan-angan saya itu akhirnya terwujud sesuai target dengan melalui cukup banyak kesulitan dan kelelahan. Mungkin lebih lengkapnya akan saya ceritakan di kesempatan lain bila berkenan.

Sebenarnya yang ingin saya bicarakan adalah soal tantangan dan fokus. Thariq bin Ziyad yang mengukirkan namanya di selat dua benua (Jabal Thariq atau Gibraltar), sadar bahwa semakin besar tantangan akan semakin dahsyat pula potensi diri yang tergerakkan. Ia memerintahkan untuk membakar semua kapal ketika mendarat di semenanjung Iberia-Andalusia sebelum membebaskan Andalusia dari jajahan Raja Roderick yang semena-mena.

Thariq bin Ziyad seketika itu menutup celah kekalahan kaum muslimin. Kenapa? Karena hanya tinggal 2 pilihan sekarang: memenangkan pertempuran atau memenangkan bidadari surga. Pilihan ketiga, yaitu pulang dengan kapal sudah dihapus karena ia yakin pilihan ketiga berarti kekalahan.

Apa yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah Thariq? Ya. Kalau ingin sukses besar, perbesar tantangannya! Tak lupa dengan doa juga tentunya. Saya mencoba untuk menerapkan contoh tersebut dalam angan-angan yang sudah saya ceritakan tadi. Dengan mengatakan bahwa saya akan menikah sebelum lulus, berarti kemungkinan untuk menikah setelah lulus, setelah dapat pekerjaan bagus, setelah umur sekian, setelah mapan, dan setelah-setelah yang lainnya sudah saya hapuskan. Dan pasti, potensi diri ini akan tergerakkan untuk memperoleh pilihan yang sebelumnya sudah ditetapkan.

Ada dua hal yang saya katakan ke istri saya (ups, waktu itu masih calon) beberapa bulan sebelum mencoba memantapkan hati untuk berbicara dengan calon mertua. Yang pertama saya katakan adalah keinginan saya untuk menikah di bulan Muharram, di mana saat itu bulan Muharram bertepatan dengan bulan Desember. Kemudian yang kedua, yang pasti akan selalu saya ingat, “Kalau kita gak bisa menikah sebelum tahun 2010, kita sudahi saja…”

Dengan kata lain, saya harus sudah menikah di bulan Desember tahun 2009!

Lagi-lagi saya mencoba untuk memperbesar taruhan saya. Sedikit nekat memang. Tapi saya akui dengan tantangan yang saya perbesar itu saya semakin menemukan ide-ide kreatif untuk mendukung angan-angan saya. Mental semakin terasah, dan ketetapan hati semakin bulat. Kalau saya tidak bisa menikah dengan calon istri saya waktu itu sesuai target, saya masih bisa mencari calon mertua lain. Alhamdulillah, sukses!

Dan kembali saya ingat, ternyata rangkaian angan ini tidak dimulai ketika saya pertama kali mengikrarkan niat di depan guru-guru saya di SMA. Dialog dengan seorang guru saya, M. Faedhullah namanya, menguatkan keyakinan saya akan pentingnya berangan-angan dan mencari tantangan. Di tengah-tengah pelajaran, saya yang ketika itu duduk di kelas 3 SMP ditanya oleh beliau, “Kamu mencari istri yang seperti apa nantinya?”

Ketika itu saya jawab kalau saya mencari yang berjilbab! Bukan hanya sekedar mengenakan jilbab, tapi juga menjaga hijabnya dengan sempurna. Dengan demikian, pilihan untuk mendapatkan istri yang tidak menjaga auratnya sangat-sangat tertutup. Bagaimana hasilnya? Alhamdulillah. Soal hijab ini selalu saya wanti-wanti ke istri saya sejak sebelum menikah dulu sampai sekarang.

Dan sekarang, di antara beberapa angan-angan saya, saya punya satu lagi angan-angan dan tantangan besar yang menunggu untuk diwujudkan. Saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan saya sekarang dan fokus sepenuhnya untuk beralih pada profesi yang dilakoni Abdurrahman bin ‘Auf, bekerja mandiri dan membuka lapangan pekerjaan baru. Kaum muslimin butuh Abdurrahman bin ‘Auf lainnya.

Insya Allah suatu hari nanti pasti terwujud. Ya Allah, kabulkanlah…

  1. 5
    andi sakab bilang:
    28/05/2010 22:32

    amin… semoga semua dapat terlaksana. :)

  2. 4
    nn bilang:
    27/05/2010 15:49

    Ada dua hal yang saya katakan ke istri saya (ups, waktu itu masih calon) beberapa bulan sebelum mencoba memantapkan hati untuk berbicara dengan calon mertua. Yang pertama saya katakan adalah keinginan saya untuk menikah di bulan Muharram, di mana saat itu bulan Muharram bertepatan dengan bulan Desember. Kemudian yang kedua, yang pasti akan selalu saya ingat, “Kalau kita gak bisa menikah sebelum tahun 2010, kita sudahi saja…”

    Dengan kata lain, saya harus sudah menikah di bulan Desember tahun 2009!

    kt2 itu memaksa kehendak cwe donk….

    • 4.1
      adit-nya niez bilang:
      27/05/2010 15:54

      Memaksa gimana? Buat kami itu komitmen.

      Yang kami inginkan itu pacaran setelah menikah. Bukan pacaran sebelum menikah. Maka itu kami mencoba membulatkan tekad untuk tinggalkan yang “hitam”. Mencoba untuk kembali ke jalur dan angan-angan yang benar. Halah, bahasanya…

      Daripada bertumpuk dosa, lebih baik buat komitmen untuk mensucikan diri. Dan ini bukan komitmen sepihak, tapi kesepakatan dua belah pihak. Masing-masing pihak sudah siap untuk segala kemungkinan terburuk. Walau akhirnya Allah dan orang tua mengizinkan kami untuk menikah muda…

      Kata-kata itu bukan saya maksudkan untuk memaksa atau mengajak calon istri menikah muda. Bagaimana mau mengajak, calon istri saya ketika itu juga punya misi yang sama. Tidak perlu lagi diajak atau dipaksa. Tapi kata-kata itu sebagai bentuk komitmen dan tantangan untuk saya pribadi. Kalau saya tidak bisa dapat mertua di sana, saya masih bisa dapat di tempat lain. Bumi ini begitu luas untuk orang-orang yang akan berhijrah menuju kesucian.

      Saya, dari sudut pandang saya, cuma ingin cepat menikah. Bukan ingin berlama-lama pacaran. Bahkan kalau memungkinkan untuk langsung menikah pasti akan saya lakukan. Tapi ketika itu ada sedikit hambatan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

      Ngeri ah nanti di “sana” ditanya2 sama Allah. Ujung-ujungnya masing-masing orang tua kami juga pasti ditanya Allah tentang hubungan 2 lawan jenis yang belum halal. Lebih baik benerin jalan biar insya Allah di “sana” dapat kemudahan dan keringanan.

      Hmm… Mungkin ada baiknya ada komentar yang dari sudut pandang istri ya..

  3. 3
    Payjo bilang:
    27/05/2010 15:22

    Kalo begitu, saya mempersiapkan CV yang bagus dulu buat persiapan melamar kerja di perusahaanmu kelak Dit :mrgreen:

  4. 2
    rifa bilang:
    27/05/2010 12:09

    wuiii..mantap.. hoho..
    amiin, semoga impian selanjutnya dapat terkabul..

    btw, itu yang kalimat..

    “Kalau saya tidak bisa menikah dengan calon istri saya waktu itu sesuai target, saya masih bisa mencari calon mertua lain.

    rasanya mirip dg yang diucapkan oleh seorang penulis waktu melamar seseorang yg jd istrinya skrg.. heu

    • 2.1
      adit-nya niez bilang:
      27/05/2010 15:57

      Bukan cuma seorang, tapi banyak.
      Ada ustad pengajiannya istri saya (lupa namanya, nanti tanya istri dulu), ada Salim A. Fillah, guru saya juga ada yang seperti itu…

    • 2.2
      rifa bilang:
      27/05/2010 21:16

      nah, iya, itu maksudnya. salim a. fillah. ;D

  5. 1
    budiono bilang:
    27/05/2010 07:19

    bacaan yang penuh makna dan menginspirasi.. niat menikah muda akhirnya kesampaian karena adanya kemauan dan niat yang besar..

    salam sukses untuk adit dan niez

  1. 127/05/2010 22:39

Tinggalkan Komentar

 

 

 

 emoticon

:):(;):D;;)>:D<:-/:x:blushing::P:-*=((:-OX(:>B-):-S#:-S>:):((:)):|/:)=))O:-):-B=;I-)8-|L-):-&:-$[-(:O)8-}<:-P(:|=P~:-?#-o=D>:-SS@-):^o:-w:-<>:P<):):@)3:-O:(|)~:>@};-%%-**==(~~)~O)*-:)8-X=:)>-):-L$-):whistling:b-(:)>-[-X:dancing:>:/;))o->o=>o-+(%):-@^:)^:-j(*):)]:-c~X(:-h:-t8->:-??%-(:o3X_X:!!:rockon::-q:-bd^#(^:bz:ar![..]