Mulai dari Diri Sendiri

Tulis Komentar

macetPagi ini Jakarta macet sekali. Ribuan mobil, motor, bus, angkot, bahkan pedagang kaki lima bergumul dalam asap knalpot di satu ruas jalan. Dengan kecepatan yang sangad lambat, pengguna-pengguna jalan ini saling berdesakan dan menyerobot jalan. Teriak makian dan bunyi klakson pun mewarnai atau mungkin memperkeruh suasana jalan yang memang sudah keruh.

Walaupun pemerintah sudah memperlebar jalan serta membangun fly-over dan underpass, namun hal ini ternyata tidak mengubah kemacetan yang terjadi karena pembangunan tersebut tetap tidak sebanding dengan pertambahan banyaknya kendaraan di Jakarta. Belum lagi sopir angkot yang kerap ngetem di pertigaan dan perempatan jalan sehingga menghambat pengguna jalan yang berada di belakangnya. Kemudian pedagang kaki lima yang dengan santainya berjualan di badan-badan jalan tanpa mempedulikan bahwa tindakan mereka ini semakin menghambat laju kendaraan di jalan.

Dan masih banyak lagi penyebab kemacetan yang ternyata lebih berkonotasi pada ‘mereka’. Apakah memang semuanya ‘mereka’ yang salah ?? Bagaimana dengan ‘kita’ sebagai pengguna jalan ?? Kita dengan santainya main serobot jalan tanpa mempedulikan pengguna jalan yang lain. Kita dengan egoisnya menyeberang jalan di sembarang tempat tanpa pernah memikirkan efek dari tindakan kita. Kita dengan sesuka hati menunggu angkot di perempatan dan pertigaan jalan sehingga menarik minat para sopir angkot untuk ngetem di sana. Kita dengan bangganya membeli jajanan dari pedagang kaki lima di pinggir jalan tanpa harus repot-repot turun dari mobil dengan alasan ‘malas’, tanpa menggubris teriakan pengguna jalan di belakang kita yang lajunya terhambat oleh mobil kita.

Kurang lebih begitulah yang dipaparkan oleh Azimah Rahayu pada salah satu bab dalam buku Karena Aku Begitu Cantik. Yak, saat ini kita kerap berpendapat bahwa kemacetan lebih disebabkan oleh orang lain, padahal ternyata kemacetan itu timbul akibat ulah kita sendiri. Kita terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain, tanpa mau mengakui kesalahan diri kita yang ikut andil dalam membentuk sebuah suasana nyata yang biasanya buruk. Seperti sebuah peribahasa yang menyatakan: Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.

Padahal kalau kita mau berpikir lebih dalam lagi, akan lebih mudah bagi kita untuk membuat suasana yang ada menjadi jauh lebih baik dengan cara memperbaiki diri ketimbang harus mengumpat dan mengubah orang lain.

Sama seperti kita yang suka menyalahkan pemerintah dalam penanganan banjir di Indonesia, padahal kita masih suka membuang sampah di saluran pembuangan dan membangun gedung-gedung di daerah resapan. Uhuhuuu…

Dalam sebuah episode Nanny 911, seorang bapak sibuk menyalahkan kenakalan anak lelakinya dan berusaha keras ingin mengubah perilaku anaknya itu. Usut punya usut, ternyata si Nanny berhasil menemukan bahwa kenakalan anak itu disebabkan oleh perbuatan bapaknya sendiri yang terlalu memanjakan si anak. Si Bapak yang keras kepala tetap tidak mau mengakui bahwa kesalahan ada padanya, hingga akhirnya si Nanny berhasil menyadarkan si Bapak. Setelah si Bapak mengevaluasi diri, akhirnya anaknya yang bandel itu pun menjadi lebih mudah dikontrol.

Kadang kita begitu sering menyalahkan orang lain atas suatu keadaan yang menimpa kita. Padahal kalau kita mau menyadari kesalahan kita dan berusaha untuk mengevaluasi diri serta melembutkan hati, alangkah jauh lebih baik untuk kita dapat menerima atau bahkan mengubah keadaan tersebut.

Seperti seseorang yang pernah bercerita begini kepada saya, “Ada beberapa hal yang sampe saat ini ga bisa aku terima, salah satunya adalah masa laluku. Aku sering menyalahkan masa laluku yang kemudian membentuk pribadiku jadi kayak gini. Kenapa sih dulu aku begini dan begitu ?! Hal ini sering banget mengusik pikiranku. Aku masih ga bisa menerima masa laluku ituh.”

Memang kadang kita sering menyesal bahkan mengutuk keadaan kita di masa lalu. Padahal kita tahu pasti bahwa kita tidak akan pernah bisa mengubahnya. Bukankah dengan kita memaki-maki masa lalu, cuma akan membuang sia-sia energi kita ?? Yang bisa kita lakukan saat ini adalah evaluasi diri, memperbaiki diri, dan berusaha agar kejadian di masa lalu itu tidak terulang di saat ini dan masa depan.

Pernah dalam suatu kajian, ustadz saya berkata begini, “Jika kejadian buruk menimpa kita, itu bisa merupakan ujian atau bahkan hukuman dari Allah. Kalau kita sering melakukan dosa, maka itu bisa jadi hukuman, dan kita mesti bertobat. Kalau kita merasa tidak pernah melakukan suatu kesalahan, maka itu bisa jadi sebuah ujian untuk kita. Nah masalahnya, kalau kita merasa suci, justru itulah kesalahan kita.”

Seperti ketika orang tua yang dihadapkan pada seorang anak yang berwatak keras dan pemarah. Pada saat itu Allah bisa jadi sedang menguji kesabaran orang tuanya. Dalam keadaan tersebut hanya kesabaran orang tualah yang bisa membuat keadaan menjadi lebih baik. Hati orang tua akan lebih tenang karena tetap bersabar. Dengan demikian insya Allah akan turut mengetuk hati si anak agar berlaku lebih lembut dan sabar.

Beberapa waktu lalu Aa’ Gym juga berkata begini, “Kita tidak usah terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain yang kita harus mengubahnya. Kewajiban kita hanya mengingatkan, kalau memang tidak ada perubahan maka sudah gugurlah kewajiban kita itu. Maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah tobat. Karena kalau kita senantiasa mengevaluasi diri, maka insya Allah, Allah akan menolong kita. Jadi, tobat adalah salah satu kunci untuk bisa ridha pada suatu kenyataan.”

Dalam Al-Qur’an juga telah disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 155:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Jadi, kalau sesuatu yang buruk menimpa kita, siyapa yang salah ?? Siyapa yang harus memperbaiki diri dahulu ??

Klo kata Aa’ Gym:

Mulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang !!

.

Gambar di atas dipinjam dari sini.

  1. 52
    MUFA bilang:
    04/10/2010 06:39

    dari mna sumber ini berasal???

  2. 51
    bundadontworry bilang:
    24/12/2009 15:30

    Alinea satu menggambarkan dgn tepat keseharian di kota metropolitan, memang begitulah adanya.
    Kita terbiasa memang menyalahkan orang lain, krn lebih enak, lebih gampang dan terlalu sombong utk mengkritisi diri sendiri.
    ajakan yang mulia, utk memulai dr diri sendiri, dari yang kecil dan mulailah dr sekarang.
    terima kasih utk tulisan yg bermanfaat ini Adit dan Niez.
    salam.

  3. 50
    Ihwan bilang:
    12/11/2009 22:29

    sedikit merenung dengan apa yang sudah diperbuat dan tetap berusaha memperbaiki diri untuk hari esok :)

  4. 49
    Edi Psw bilang:
    31/10/2009 11:18

    Bener yang dikatakan oleh Aa’ Gym

  5. 48
    yans"dalamjeda" bilang:
    18/10/2009 03:37

    Eh..nyampe sini udah ga aktif lg kayaknya?!
    :D

  6. 47
    fadielajah bilang:
    01/09/2009 02:01

    artkel yg mnarik.. oy link mas ud sya psang dblog sya.. slm knal.. ;)

  7. 46
    zakiyah bilang:
    25/08/2009 20:49

    Good, i like your article man…….. :-bd

    Semakin lama semakin bagus cara menulisnya, jadi ngiri nih

    gimana kabarnya?

    mampir ke blogg lagi ya (*)

  8. 45
    adit-nya niez bilang:
    20/08/2009 14:00

    @warm:
    Lagi rada sibuk ini… ;))

  9. 44
    warm bilang:
    20/08/2009 09:44

    kok gak di apdet lagi ?

  10. 43
    escoret bilang:
    12/08/2009 10:42

    lama ga buka blog ini…
    aku kira malah udah nikah…

    eh,udah nikah blom tho ?

  11. 42
    Aditya bilang:
    02/08/2009 07:19

    Salam kenal…. :)

  12. 41
    unie bilang:
    26/07/2009 01:18

    maaf nih ikut mampir sambil ikut baca juga.
    salam kenal aja…

  1. 106/01/2010 23:10

Tinggalkan Komentar

 

 

 

 emoticon

:):(;):D;;)>:D<:-/:x:blushing::P:-*=((:-OX(:>B-):-S#:-S>:):((:)):|/:)=))O:-):-B=;I-)8-|L-):-&:-$[-(:O)8-}<:-P(:|=P~:-?#-o=D>:-SS@-):^o:-w:-<>:P<):):@)3:-O:(|)~:>@};-%%-**==(~~)~O)*-:)8-X=:)>-):-L$-):whistling:b-(:)>-[-X:dancing:>:/;))o->o=>o-+(%):-@^:)^:-j(*):)]:-c~X(:-h:-t8->:-??%-(:o3X_X:!!:rockon::-q:-bd^#(^:bz:ar![..]