Terbanglah! Terbanglah!

Tulis Komentar

Seperti embun yang mendinginkan hati bunga lily, dan bagaikan topan yang menggelagakkan dalamnya sungai.
(Tanpa nama)

Siang yang terik di bumi Madinah, suatu hari. Matahari memancarkan sinarnya dengan benderang.

Terik sekali, garang menyapa setiap jengkal kota. Jalanan sedikit lengang, orang-orang lebih memilih berdiam di dalam rumah ataupun berteduh dibanding bepergian.

Tapi tidak untuknya, lelaki tegap yang mengenakan jubah sederhana. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong kota sendirian. Tak peduli dengan teriknya matahari, tak terganggu dengan debu pasir yang mengepul ke udara. Ia terus bersemangat mengayun langkahnya, dengan sesekali menatap ke sekitar seperti tengah mengawasi. Hatinya lega, bila daerah yang dilewatinya sentosa seperti hari-hari sebelumnya. Ia adalah orang yang sangat sederhana; harta, pakaian, dan dunianya. Namun, amat sangat tidak sederhana untuk urusan yang seperti ini.

Ia melewati salah satu halaman rumah seorang penduduk, dan ia berhenti. Langkahnya surut, pandangannya tertuju pada seorang anak kecil di sana.

“Nak, apa yang berada di tanganmu itu?”

Wajah si kecil mendongak sekilas dan menjawab, “Paman, tidakkah paman lihat, ini adalah seekor burung,”

Pandangan lelaki ini sedikit meredup, jatuh iba melihat burung itu mencericit parau. Burung ini tentu sangat ingin terbang, dan anak ini tak mengerti jika makhluk kecil ini teraniaya.

“Bolehkah aku membelinya, Nak? Aku sangat ingin memilikinya,”

Si kecil memandang wajah lelaki yang tak dikenalnya itu. Gurat kesungguhan tergambar dalam parasnya.

“Baiklah, Paman.”

Lelaki itu merogoh saku jubah lusuhnya. Beberapa keping uang kini berpindah. Dalam genggamannya burung kecil itu dibawanya menjauh. Dan dengan hati-hati ia buka genggaman tangannya.

“Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Penyayang, engkau burung kecil, terbanglah! Terbanglah,”

Maka sepasang sayap itu mengepak tinggi. Ia menengadah hening memandang burung yang mengangkasa. Sungguh, langit Madinah menjadi saksi. Sayup-sayup didengarnya sebuah langkah kaki dewasa, membuatnya pergi dan melangkah tergesa.

.

Hanya menceritakan kembali kisah seorang Umar, amirul mukminin, untuk seorang Umar Abdurrahman, hamba-Nya.

  1. 3
    marina bilang:
    19/12/2011 14:17

    duh, kok jadi pengen meleleh..

  2. 2
    Odi Sumantri bilang:
    26/11/2011 15:17

    Terimakasih gan, dah dikasih alamat blognya.

    salam kenal, tambah silaturahmi

  3. 1
    Abu Umar bilang:
    08/11/2011 00:27

    Sedang mencoba mengembalikan semangat ngeblog… :D

  1. Tidak ada trackback untuk tulisan ini.

Tinggalkan Komentar

 

 

 

 emoticon

:):(;):D;;)>:D<:-/:x:blushing::P:-*=((:-OX(:>B-):-S#:-S>:):((:)):|/:)=))O:-):-B=;I-)8-|L-):-&:-$[-(:O)8-}<:-P(:|=P~:-?#-o=D>:-SS@-):^o:-w:-<>:P<):):@)3:-O:(|)~:>@};-%%-**==(~~)~O)*-:)8-X=:)>-):-L$-):whistling:b-(:)>-[-X:dancing:>:/;))o->o=>o-+(%):-@^:)^:-j(*):)]:-c~X(:-h:-t8->:-??%-(:o3X_X:!!:rockon::-q:-bd^#(^:bz:ar![..]