Semangkuk Saja

Tulis Komentar

Dilihat dari judul dan gambar di bawah ini apakah terlintas di pikiran bahwa tulisan ini ialah tulisan kuliner? Hehe… Tulisan ini gak bahas soal makanan kok. Selamat membaca…

Semangkuk Saja

Gak tau apa yang saya pikirin, tiba-tiba saya teringat akan si kancil yang nemplok di kepala saya. Sebuah dongengan masa kecil saya dulu. Saya masih inget betul sewaktu saya TK dijejali guru dengan dongeng-dongeng seperti itu. Si kancil yang tukang nyuri ketimun itu digambarkan sebagai sosok yang “cerdik”. Kerjaannya cuma gangguin si petani aja, nggak ada habisnya itu akal si kancil untuk mengelabui petani. Dulu saya suka sekali dengan cerita si kancil itu, sampai-sampai saya pernah mengikuti lomba mewarnai si kancil. Hehehe…

Tapi semakin saya ngelamun ngelindur, kok tiba-tiba ada satu kalimat tanya yang terlintas yah. Sebenarnya apa yang bisa dijadikan contoh kebaikan dari si kancil? Guru-guru dan juga para pendongeng kancil lainnya menggambarkan bahwa si kancil merupakan sosok yang cerdik. Khayalan anak kecil pun dibawanya terombang-ambing ke dalam dunia semunya masing-masing hingga pada akhirnya tertanam pada benak sang anak dalam cerita itu bahwa si kancil adalah jagoannya, dan si petani adalah penjahatnya. Ahahaha… Pengalaman pribadi ini…

Ehm… Kok saya malah nyeritain si kancil sih. Lha terus hubungannya apa sama gambar opor itu?? Okeh, langsung aja ke tujuannya. Serius dikit. Dikit ajah… Bicara soal cerdik, saya jadi ingat cerita dari om saya ketika di depan kami ada hidangan yang berupa opor ayam sewaktu lebaran kemarin. Om saya itu bercerita tentang teman kerjanya yang memiliki istri cerdik yang punya profesi paling mulia dan paling berkah dari profesi apapun.

Hee, profesi apa sih emangnya? Itu loh, hoswev! Eh, aduh gimana yah nulis boso Inggrisnya?? Halah, sok dikeren-kerenin. Bilang aja ibu rumah tangga gitu! Hu’uh… Ibu rumah tangga, yang mungkin sebagian besar wanita merasa malu untuk mengambil profesi ini, denger-denger merupakan profesi wanita paling mulia dibanding semua profesi yang ada.

Jadi begini ini loh ceritanya…

Si suami dan istri tersebut sedang berbincang sambil menyantap makanan paginya. Setelah itu suami berpesan pada istri sebelum berangkat ke kantor. Lokasi kantornya cukup jauh dari rumah mereka yang tidak terletak di daerah perkotaan. Ya, mungkin bisa dibilang terletak di pelosok-pelosok Jakarta gitu.

Kebetulan keluarga yang insya Allah berbahagia itu baru saja menikah dan belum dikaruniai anak. Ahh… Enak kali yah saat-saat baru saja menikah seperti itu. Jadi kepingin nih. Hehehe… Lanjut dulu ah ceritanya.

Mi, ini aku berikan uang lima ribu rupiah untuk makan malam nanti. Aku mau dibikinin opor ayam ya!

Haah! Gak salah? Secara reflek saya bertanya seperti itu ke om saya yang menceritakan. Lima ribu rupiah untuk membuat opor ayam dengan porsi berdua? Hmm… Jadi teringat kalau di tempat saya saja harga juz alpukat rata-rata tujuh ribu rupiah. Yah, memang terlalu mahal sih bila dibandingkan dengan di dekat rumahnya niez-ku yang cuma tiga ribu rupiah. Mungkin memang biaya hidup di Jakarta jauh lebih tinggi dibanding kota lainnya.

Mendengar itu saya sudah memperkirakan apa yang akan diucapkan istri setelah suami berpesan seperti itu. Yah, minimalnya sama seperti pertanyaan reflek saya tadi. Tapi sepertinya dugaan saya meleset.

Singkat cerita, om saya bilang kalau ternyata si istri berhasil menjalankan amanah itu. Dengan uang lima ribu rupiah, si istri membuatkan opor ayam hanya dengan membeli 2 pasang ceker ayam! Dan ketika disuguhkan makanan itu kepada suaminya pun, ternyata suaminya tidak protes walau hanya semangkuk opor ceker ayam saja. Justru si suami semakin yakin kalau ternyata istrinya itu mampu mengemban segala amanah yang ia berikan tanpa keluh kesah. Mungkin itu ya yang dimaksud dengan banyak bertindak sedikit berbicara.

Sepertinya nyaman sekali ya punya keluarga yang memiliki sikap qana’ah, yaitu merasa cukup atau menerima apa adanya dengan apa yang dimiliki. Tidak hanya istri, tapi suaminya pun juga memiliki sikap yang sama. Tapi mungkin yang perlu digarisbawahi, dalam kasus pergaulan, sikap menerima apa adanya disini bukan berarti menerima segala keburukan secara bulat-bulat. Ah, saya jadi keinget tentang sikap suami yang berubah karena sikap qana’ah istri terhadap sebuah sandal jepit. Hmm… Sebagai seorang calon suami, saya jadi pengin segera mempraktekkan untuk berkeluarga. Halah halah, udah kebelet nih yee…

Rasulullah pernah berpesan kepada seluruh wanita dan istri untuk menjaga kehormatan dan menutup mata bila melihat sesuatu yang tidak mungkin bisa diraih. Lihatlah ke bawah, masih banyak yang lebih menderita dibanding diri ini. Maka akan kau temui dirimu menjadi orang yang mudah mensyukuri nikmat-Nya.

Ah, tapi kok ngeliat gambar opornya saya jadi kepingin makan ya. Ada yang bikin opor ayam? Saya mau ya. Semangkuk opor ceker saja juga gak apa, insya Allah. Hehehe…

.

Gambar opor ayam pada tulisan ini diambil dari sini.
Ehh, ati-ati ya. Banyak tautan link sama jebakannya. Ini rahasia kita aja lho! Ssstt…

Tetap update di manapun melalui http://m.aditdanniez.com di browser ponsel Anda
 | 1,174 klik
  1. 20
    omiyan bilang:
    24/11/2008 10:47

    hhmm jadi inget istri yang suka berpeksperimen soal makanan dan saya adalah pengetes utama berhasil apa tidak…

    sesungguhnya suami paling senang dengan masakan sang istri terlepas lengkap atau tidak suatu masakan….itu yang selau saya katakan ke istri

  2. 19
    adit-nya niez bilang:
    24/11/2008 09:20

    @Dy:
    Hu’uh… Tapi sayangnya banyak wanita sekarang nggak bangga berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Andai mereka tahu apa balasannya bagi seorang ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan keluarganya dengan baik. Hmm…

    @mbelGedez:
    Benar! Insya Allah saya akan selalu pelit untuk memberikan sesuatu yang buruk bagi Niez dan saya pribadi… :)

    @annosmile:
    Ya, mungkin memang sangat jarang. Kebanyakan dari kita secara tidak disadari memiliki fitrah untuk menuntut sesuatu yang tidak mungkin bisa digapai.

    @luxboy:
    Salam kenal…

    @debrian:
    Mau?? Belajar sanah…
    Salam kenal

    @emina:
    Wa’alaikumussalam wr. wb.

    Hehe… Iya nih mbak… :)

    @Takodok!:
    Wah, suka shirah juga toh?
    Kami juga masi harus membenahi diri, mbak…

    @warmorning:
    Gyahahaha… Tunggu saja, insya Allah! :D

    @aRai:
    Silakan dimakan…

    @Lala:
    Huhu… Lebih terharu lagi klo abis baca yang link sandal jepit itu mbak…

  3. 18
    Lala bilang:
    23/11/2008 22:16

    abis baca jadi terharu…

  4. 17
    aRai bilang:
    23/11/2008 22:04

    duh jadi lapar banget liat gambarna … mana lom makan lagi … :((

  5. 16
    warmorning bilang:
    23/11/2008 20:18

    itu sifat honey saya,
    selalu berusaha mengartikan mau saya,
    tanpa banyak protes, protes pun kalau memang maunya saya kelewatan :D

    itulah untungnya hidup punya pasangan *sekalian manas2in ente nih hehehe*

  6. 15
    Takodok! bilang:
    23/11/2008 17:09

    Weits, mencerahkan! :D
    Dalam sehari ini sudah saya membaca dua tulisan seperti ini, Sirah Nabawiyah salah satunya. Jadi merasa musti membenahi diri, nyehehehe.. ;))

  7. 14
    emina bilang:
    23/11/2008 16:47

    assalamualaikum..
    walah..blog baru..bikinan berdua? hm…

    opornya bikin ngiler ih :D

  8. 13
    debrian bilang:
    23/11/2008 15:50

    mau donk…hehe … salam kenal ya

  9. 12
    luxboy bilang:
    23/11/2008 11:48

    wiw :)

    salam kenal yah :D

  10. 11
    annosmile bilang:
    23/11/2008 09:19

    saya kira wisata kuliner
    ternyata :P

    jarang sekali orang bisa mengemban amanah seperti itu :-/

  11. 10
    mbelGedez bilang:
    23/11/2008 06:31

    Walaahh……….. Niez…..

    Posting inih adalah warning kalo sebenernya bakal suwamimu adalah…..

    P E L I T….!!! :P

    ***kabour…

  12. 9
    Dy bilang:
    22/11/2008 21:43

    wah..dit,walau cerita utamany bkn ttg opor ayam,ttp aja bikin aku tambah lapar waktu bacanya..hehhee
    ehhmm..iya,bener banget seharusnya kerjaan yang paling bangga dimiliki sama perempuan itu ya jadi Ibu rumah tangga. :)
    keren nih tulisan dit,banyak link yang bagus2 juga… ;))

  13. 8
    adit-nya niez bilang:
    22/11/2008 21:23

    @velc:
    Saya baru tau klo velc masih sekolah… ;))

    Ehehe… Amiin… :)

    @Payjo:
    Sebenernya gak bisa, Jo. Maka itu, buruan nikah yuk. Kita barengan aja Jo, ajak Mba Riri. Gimana?? :D

    Masalah praktek lebih sulit daripada menulis sih itu pasti, Jo. Tapi setiap pernikahan pasti ada masalah yang musti dihadapi. Yang gak menikah pun juga pasti pernah bermasalah kan? Intinya mungkin gimana cara kita nyikapin permasalahan itu. Dan yang penting musti yakin sama pertolongan-Nya…

    @toim:
    Ahahaha… Bisa aja… :D

    @awi:
    Hehehe… Fast reading ya??

    @abee:
    Makan sanah… :P

  14. 7
    abee bilang:
    22/11/2008 21:21

    bikin ngiler ajah gambarnyah….. :D

  15. 6
    awi bilang:
    22/11/2008 21:20

    iya koq gambarnya seperti wisata kuliner, tapi pas baca koq tentang kancil hehe

  16. 5
    toim bilang:
    22/11/2008 21:12

    cekernya mungkin gak seberapa, tp dimasak dgn rasa cinta , kan? :)

  17. 4
    Payjo bilang:
    22/11/2008 21:03

    Prolognya kancil dulu :P

    Eh sebelumnya Dit, konsep islam dalam berumah tangga bisa dipakai untuk pacaran nggak? :D

    2 postingan, sudah menggambarkan keseriusan Adit dan Niez untuk hidup bersama nih. Insya Allah berkah. Setidaknya, segala kemungkinan permasalahan yang akan muncul terlebih dahulu dibahas. Jadi sduah ada penyelesaian ketka dihadang nanti. Tapi, kondisi asli nantinya pasti lebih sulit. Tidak segampang menulis ya Dit?

    Sebenarnya tadi mau komentar apa ya, setelah ikut link yang sendal jepit jadi lupa gini.

    Ranger Ijo, out! B-)

    :))

  18. 3
    velc bilang:
    22/11/2008 19:45

    *glek*
    percakapan diatas…

    emang, kalo liat ceritanya..
    bener-bener…
    menggambarkan, istri berprofesi sebagai ibu rumah tangga adalah yang mulia. mengemban sebuah amanah, yang ada dalam pikiran saia pribadi, itu sangat susah dilakukan. melihat hanya satu lembar uang yang harus bisa dibagi menjadi porsi dua orang.

    salut banget ama keberadaan istri yg kek gini.
    suami yang dapetin istri kek gini, adalah lelaki yang paling berbahagia~

    ah, jujur saja, saia masi rada bingung dengan niez-nya adit dan adit-nya niez. belum terbiasa. :P

    semoga, keluarga seperti di entri ini, bisa anda berdua emban~ :D

  19. 2
    adit-nya niez bilang:
    22/11/2008 19:11

    @niez-nya adit:
    Amiin… :)

    Semoga terwujud yah. Jangan lupa juga berdoa buat dimudahkan…

    Ehehehe… Yang enak yah masaknya… ;))

  20. 1
    niez-nya adit bilang:
    22/11/2008 19:10

    Niez juga mo jadi istri yang qana’ah, sayang. Didoakan yah… :D

    Oiya, soal opornya, ntar insya Allah tak bikinin aja yah… :)

Halaman
  1. Tidak ada trackback untuk tulisan ini.

Tinggalkan Komentar

 emoticon

:):(;):D;;)>:D<:-/:x:blushing::P:-*=((:-OX(:>B-):-S#:-S>:):((:)):|/:)=))O:-):-B=;I-)8-|L-):-&:-$[-(:O)8-}<:-P(:|=P~:-?#-o=D>:-SS@-):^o:-w:-<>:P<):):@)3:-O:(|)~:>@};-%%-**==(~~)~O)*-:)8-X=:)>-):-L$-):whistling:b-(:)>-[-X:dancing:>:/;))o->o=>o-+(%):-@^:)^:-j(*):)]:-c~X(:-h:-t8->:-??%-(:o3X_X:!!:rockon::-q:-bd^#(^:bz:ar![..]