Aliran Anti Vaksin

Tulis Komentar

Ya ya… Saya tau judul tulisan ini sangat berlebihan.Β Jadi begini, beberapa waktu lalu Umar bersama abi dan ummi nya pergi ke rumah sakit Hermina Jatinegara untuk kontrol setelah perawatan bilirubinnya dinyatakan tuntas. Nah, setelah selesai memeriksakan kondisi Umar, terjadi percakapan berikut ini:

.

Dokter: Lho, ini belum divaksin ya anaknya? Saya kasih vaksin polio ya.

Abi: Coba tanya ibunya dulu, Dok!

Dokter: Gimana Bu, saya kasih ya?

Ummi: Tanya ke bapaknya aja,

Abi: Ga usah dulu aja, Dok.

Dokter: Yakin?

Abi: Insya Allah yakin,

Dokter: Ini emang aliran apa sih? Kayaknya pasien saya juga banyak yang ga mau dikasih.

.

Mendengar itu saya senyum-senyum saja. Mungkin tampilan luar saya yang sedikit berjanggut ini ditambah pakaian serba menutup aurat yang dipakai istri saya ikut mempengaruhi penilaian pak dokter itu.

Mencoba santai, saya beranikan menjawab pertanyaan pak dokter tadi. Mungkin dokter tau kalau di luar sana ada anggapan kalau ternyata vaksin itu berbahaya, ada efek sampingnya. Tapi yang jadi alasan saya untuk menolak anak saya divaksinasi bukan itu.

Saya cuma khawatir sama vaksinnya. Setau saya, beberapa vaksin memang tidak jelas sumber atau bahan-bahan pembuatnya. Seperti misalnya enzim babi atau yang lainnya. Itu yang jadi alasan saya.

Dokter: Oh, berarti alasannya emang karena sumber gak jelas itu ya,

Alhamdulillah, pak dokter nya cukup open minded menerima penjelasan saya. Tapi jujur, saya bukannya mau sok tau atau sok pintar dengan mengatakan anak saya tidak butuh vaksinasi. Tidak, sama sekali tidak! Bahkan terbersit juga rasa khawatir dalam diri saya bagaimana seandainya anak saya menderita beberapa penyakit yang disebabkan karena tidak diberikan vaksinasinya. Tapi semoga itu tidak terjadi, Ya Allah.

Saya berkali-kali mengatakan ke istri saya kalau sebodoh-bodohnya dokter dalam hal medis, masih lebih bodoh kita semua yang bukan dokter. Jadi maksud saya, sudah kewajiban kita menuruti saran-saran orang yang memang memiliki ilmu di bidangnya, dalam kasus ini dokter. Insya Allah tidak ada dokter yang hendak mencelakakan pasiennya dengan disengaja.

Tapi, kalau ternyata berkaitan dengan urusan halal-haram, saya tidak kenal yang namanya toleransi. Memang, MUI sudah mengeluarkan fatwa bahwa bila belum ada alternatif lain, penggunaan vaksin yang selama proses pembuatannya menggunakan bahan-bahan seperti enzim babi atau semacamnya diperbolehkan karena alasan terpaksa.

Meski begitu, tidak ada salahnya bila saya hendak meninggalkan keragu-raguan. Bagi saya, mengusahakan agar sesuatu yang haram tidak masuk ke dalam tubuh jauh lebih harus didahulukan dibanding sekedar anjuran untuk imunisasi.

Saya sedikit menggunakan logika bodoh, kakek-nenek saya dan juga beberapa keluarga saya tidak divaksinasi dan Alhamdulillah sampai sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda yang tidak diinginkan. Kakek saya masih segar bugar di usianya yang telah senja.

Tapi biar begitu, saya juga berharap sekaligus berdoa agar ke depannya tersedia vaksin yang bebas dari unsur-unsur haram (atau setidaknya yang meragukan) yang bisa dengan mudah didapatkan oleh orang-orang yang memiliki kekhawatiran seperti saya. Termasuk juga vaksin meningitis untuk ibadah haji yang sebagian besar masih mengandung atau menggunakan enzim babi dalam proses pembuatannya. Ya Allah, berangkatkan saya haji dengan cara yang baik dan halal, yaitu cara yang tidak “merusak” tubuh saya.

Oh iya, pada saat kontrol tersebut, ternyata tali pusar nya Umar sudah puput. Pak dokter beserta susternya langsung mengambil tindakan.

Dokter: Ini kalau dikasih (red: dioles) alkohol boleh kan ya?

Gubrak! :))

  1. 20
    qie bilang:
    22/12/2010 23:28

    wkwkwkw komen terakhirnya lucu..

    salam kenal pak, silahkan berkunjung..

    http://qie22.wordpress.com/

  2. 19
    popok bilang:
    22/12/2010 18:28

    kalo udah kepepet mah, embat aja bang πŸ˜€

  3. 18
    warm bilang:
    22/12/2010 16:54

    pokoknya saya setuju dengan pendirian sampeyan, mas
    πŸ˜€

  4. 17
    neng ucrit bilang:
    22/12/2010 15:49

    jadi, aliran apa? πŸ˜€

  5. 16
    The Gombal's bilang:
    22/12/2010 10:10

    ngeri juga kalo nemu dokter ginian…

  6. 15
    emfajar bilang:
    22/12/2010 09:24

    tapi untuk vaksin ini belum ada fatwa MUI kayaknya..
    semoga sehat selalu sekeluarga.. πŸ™‚

    salam kenal πŸ˜€

  7. 14
    Ina bilang:
    20/12/2010 17:23

    diolesin alkohol?? o_O…
    Ouch…

  8. 13
    Wateper bilang:
    20/12/2010 05:41

    sesungguh’y engkau termasuk orang” yg sayang sangad terhadaf keturunanmoe…

    ay ya… dirikoe OOT ternyata… semoga dirikoe ini mendafad fengamfunan dosa… ^:)^

  9. 12
    harfa bilang:
    20/12/2010 02:30

    salut dah!

  10. 11
    Botzzz bilang:
    19/12/2010 12:33

    semoga kita semua sehat-sehat aja dech ..:D

  11. 10
    Masjid Kita bilang:
    19/12/2010 12:09

    saya setuju setuju saja sih sama kehati-hatian seperti itu mas, namun jangan sampai sikap tersebut malah menyusahkan diri kita sendiri bukan πŸ™

  12. 9
    and1k bilang:
    18/12/2010 13:43

    wah bener bener hebat teguh pada pendirian nih

  13. 8
    indra kh bilang:
    17/12/2010 20:37

    Anak kecil memang masih rentan, tapi memang harus hati2 juga ya terhadap bahan vaksinnya. Apakah MUI sudah punya fatwa terkait vaksin2 ini tidak ya? Bukan hanya meningitis saja maksud saya.

    Semoga Umar sehat selalu.

  14. 7
    morishige bilang:
    15/12/2010 21:34

    semakin berkembang zaman tentu saja penyakit juga semakin berkembang, menurut saya. :p

    tentu beda pula tantangan yang dihadapi tubuh kakek-nenek kita dengan generasi kita dan generasi2 selanjutnya. saya salut sama pendirian masbro yang tanpa kompromi menolak sesuatu-yang-tidak-jelas-bahan-pembuatnya untuk masuk ke dalam tubuh… tapi untuk mencegah penyakit menyerang tubuh, tentu saja harus ada usaha, karena berdoa saja tidak cukup. :p butuh ikhtiar. :p

    • 7.1
      adit-nya niez bilang:
      15/12/2010 21:39

      Tentu saja pakai bro!

      Setidaknya setiap hari diberikan madu. Dan nanti sedikit besar diberikan kurma yang dihaluskan.

      Lagipula, kalau Allah menurunkan penyakit, pasti Allah juga turunkan obatnya.

      “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan menurunkan obat dan menciptakan obat untuk setiap penyakit. Maka berobatlah dan jangan berobat dengan barang haram!”
      (HR. Abu Daud)

      Ah, doa itu senjatanya umat muslim kok… πŸ™‚

  15. 6
    pututik bilang:
    15/12/2010 13:13

    semoga dengan kehati-hatian seperti ini semakin terjaga kalian dari penyakit, karena Alloh Yang Menyembuhkan dan menjauhkan kita dari penyakit.

  16. 5
    choirul bilang:
    14/12/2010 22:53

    semoga tanpa dikasih vaksin tetap sehat wal afiat ya umar….

  17. 4
    Gebyar Speedy bilang:
    14/12/2010 19:54

    Saya doain mas, semoga anaknya selalu sehat walafiat.. Amin..
    btw, jawabannya gmn?

    • 4.1
      adit-nya niez bilang:
      14/12/2010 20:08

      Amiin…

      Waduh, jawaban apa ni?
      Hmm… Kayaknya banyak yg salah sangka soal alkohol itu deh… πŸ˜•

      *apdet tulisan*

  18. 3
    aRuL bilang:
    14/12/2010 17:35

    salut sama pasangan muda ini atas keistiqomahannya πŸ™‚

  19. 2
    okta sihotang bilang:
    13/12/2010 11:17

    kebayang deh kalau jadi dikasih alkohol, ckckckk

  20. 1
    marina bilang:
    12/12/2010 20:26

    jadi jadi.. dikasih alkohol gak?? πŸ˜€
    *penasaran*

Halaman
  1. Tidak ada trackback untuk tulisan ini.

Tinggalkan Komentar