<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>
<channel>
	<title>aditdanniez.com &#187; Ruang Keluarga</title>
	<atom:link href="http://www.aditdanniez.com/kanal/ruang-keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aditdanniez.com</link>
	<description>di sini tempat kami berteduh...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Jun 2010 09:44:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Istri Cantik, Suami Tampan?</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/istri-cantik-suami-tampan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/istri-cantik-suami-tampan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 16:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit-nya niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[Setiap saat, kita diajak untuk takjub dan menyibukkan hati serta pikiran dengan kecantikan orang lain, sementara di rumah para istri lupa berhias. Mereka berhias hanya ketika keluar rumah atau ke rumah teman nun jauh di sana. Alhasil, rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau. Akhirnya tak sanggup kita bicara pada istri kita, &#8220;Biarlah engkau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Setiap saat, kita diajak untuk takjub dan menyibukkan hati serta pikiran dengan kecantikan orang lain, sementara di rumah para istri lupa berhias. Mereka berhias hanya ketika keluar rumah atau ke rumah teman nun jauh di sana. Alhasil, rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau. Akhirnya tak sanggup kita bicara pada istri kita, &#8220;Biarlah engkau yang tercantik di hatiku,&#8221;</p></blockquote>
<p>Itulah petikan kalimat yang baru saja saya baca dari sebuah buku karangan Muhammad Fauzil Adhim. Dalam tulisannya, beliau menekankan tentang rentetan masalah yang biasa muncul ketika kita terlalu sibuk dengan keelokan paras orang lain. Inilah yang banyak terjadi saat ini menurutnya.</p>
<p>Sekilas, mungkin petikan kalimat tersebut lebih terkesan &#8220;menegur&#8221; para istri. Dan dalam teks aslinya sendiri, kalimat tersebut memang berada pada paragraf yang membicarakan tentang kebiasaan para istri. Namun, buat saya, kalimat tersebut juga dapat dimaknai sebagai sentilan kepada para suami untuk menjaga pandangan dan hatinya.</p>
<p><span id="more-669"></span>Ah, tidak perlu panjang lebar. Saya cuma ingin berbagi soal petikan kalimat tersebut. Insya Allah bisa menjadi pengingat untuk saya dan juga istri. Suami, orang yang paling berhak melihat eloknya sang istri ketika ia berhias. Istri, juga berhak mendapatkan hal yang sama dari suaminya, seperti sang istri melakukannya untuk suami, karena Allah dan suaminya.</p>
<p>Istri cantik, suami tampan? Wajar lah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/istri-cantik-suami-tampan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Harus Terkatakan&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/yang-harus-terkatakan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/yang-harus-terkatakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 03:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit-nya niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=634</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saya tanya, &#8220;Apakah kamu memiliki suatu tujuan?&#8221; Pasti semua akan menjawab, &#8220;Punya!&#8221; Tapi kalau ditanyakan, &#8220;Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?&#8221; Mungkin jawabannya bisa beragam. Saya punya banyak sekali tujuan, impian, atau mungkin juga khayalan. Saya memang tipe orang yang suka berangan-angan. Eits, tapi angan-angan saya insya Allah bukan angan-angan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau saya tanya, &#8220;Apakah kamu memiliki suatu tujuan?&#8221;</p>
<p>Pasti semua akan menjawab, &#8220;Punya!&#8221;</p>
<p>Tapi kalau ditanyakan, &#8220;Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?&#8221;</p>
<p>Mungkin jawabannya bisa beragam. Saya punya banyak sekali tujuan, impian, atau mungkin juga khayalan. Saya memang tipe orang yang suka berangan-angan. Eits, tapi angan-angan saya insya Allah bukan angan-angan kosong yang bertepuk sebelah tangan.</p>
<p>Alhamdulillah, salah satu angan-angan dan tujuan terbesar dalam hidup saya sudah Allah kabulkan. Tepat tanggal <a href="http://walimah.aditdanniez.com/" target="_blank">10 Muharram 1431 H</a>, angan-angan saya itu terwujud. Kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini, &#8220;Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?&#8221;</p>
<p>Seberapa banyak?</p>
<p>Saya ingat benar ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 2. Niat untuk menikah muda sudah saya simpan dalam memori saya yang menunggu untuk diwujudkan. Setahun kemudian, ketika saya duduk di kelas 3, saya ikrarkan di depan guru-guru saya niat tersebut. Tidak hanya niat yang saya ikrarkan, tapi juga waktu mengenai kapan tepatnya niat itu pasti akan terwujud.</p>
<p><span id="more-634"></span>Nekat? Kepedean? Ah, tidak juga. Waktu itu saya katakan kepada guru-guru saya kalau saya akan menikah sebelum saya lulus kuliah. Saya bertekad untuk menjalani KKN. Kuliah, kerja, nikah. Pada saat itu mungkin saja orang-orang yang mendengar tekad saya tersebut cuma menganggapnya sebagai guyonan. Maklum, terkadang kalimat guyonan saya dengan kalimat serius hanya beda-beda tipis.</p>
<p>Setahun kemudian, ketika masih tahap-tahap awal menginjakkan kaki di dunia perkuliahan, angan-angan tersebut kembali saya asah. Saya katakan ke teman-teman saya kalau saya akan menikah sebelum lulus. Bukannya saya kepedean, tapi sebenarnya saya hendak mencari siapa-siapa yang kira-kira sepaham, semisi, dan memiliki angan-angan yang sama dengan saya. Tapi sepertinya tidak ada.</p>
<p>Mungkin ada yang berpikir mengenai kesiapan saya untuk menikah. Pekerjaan salah satunya. Orang baru lulus SMA kok udah kepingin nikah. Mau ngasih makan apa ke istri nanti? Tapi Alhamdulillah, siapa sangka 3 bulan setelah lulus SMA saya mendapat pekerjaan. Gak jauh-jauh, sekolah saya yang jadi kantor pertama saya sebelum hijrah ke sebuah kantor di daerah Mangga Dua hingga kini.</p>
<p>Saat itu saya langsung dipanggil salah satu wakil direktur yayasan sekolah tempat saya bekerja. Ternyata pihak sekolah merasa tertarik dengan website yang saya buat. Dulu, sewaktu teman-teman saya sibuk dan belajar keras untuk UN SMA, saya malah asik-asik belajar mengembangkan website. Sebagian waktu saya tersita di depan internet dibanding untuk belajar kala itu. Tapi inilah yang menjadi awal mula gerbang terwujudnya cita-cita saya. Setelah mendapat pekerjaan itu, salah seorang guru saya langsung mengatakan, &#8220;Kamu udah boleh menikah sekarang!&#8221;</p>
<p>Maaf, saya sadar cerita ini sudah cukup panjang, bahkan kalau saya terus menggerakkan jari ini untuk bercerita tentu akan semakin panjang dan mungkin bisa saja memunculkan bibit kesombongan di hati ini. Padahal masih banyak hal lain yang ingin saya bicarakan dibanding sekedar bercerita. Singkatnya di akhir cerita, Alhamdulillah angan-angan saya itu akhirnya terwujud sesuai target dengan melalui cukup banyak kesulitan dan kelelahan. Mungkin lebih lengkapnya akan saya ceritakan di kesempatan lain bila berkenan.</p>
<p>Sebenarnya yang ingin saya bicarakan adalah soal tantangan dan fokus. <a href="http://www.dakwatuna.com/2008/thariq-bin-ziyad-sang-penakluk-spanyol/" target="_blank">Thariq bin Ziyad</a> yang mengukirkan namanya di selat dua benua (Jabal Thariq atau Gibraltar), sadar bahwa semakin besar tantangan akan semakin dahsyat pula potensi diri yang tergerakkan. Ia memerintahkan untuk membakar semua kapal ketika mendarat di semenanjung Iberia-Andalusia sebelum membebaskan Andalusia dari jajahan Raja Roderick yang semena-mena.</p>
<p>Thariq bin Ziyad seketika itu menutup celah kekalahan kaum muslimin. Kenapa? Karena hanya tinggal 2 pilihan sekarang: memenangkan pertempuran atau memenangkan bidadari surga. Pilihan ketiga, yaitu pulang dengan kapal sudah dihapus karena ia yakin pilihan ketiga berarti kekalahan.</p>
<p>Apa yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah Thariq? Ya. Kalau ingin sukses besar, perbesar tantangannya! Tak lupa dengan doa juga tentunya. Saya mencoba untuk menerapkan contoh tersebut dalam angan-angan yang sudah saya ceritakan tadi. Dengan mengatakan bahwa saya akan menikah sebelum lulus, berarti kemungkinan untuk menikah setelah lulus, setelah dapat pekerjaan bagus, setelah umur sekian, setelah mapan, dan setelah-setelah yang lainnya sudah saya hapuskan. Dan pasti, potensi diri ini akan tergerakkan untuk memperoleh pilihan yang sebelumnya sudah ditetapkan.</p>
<p>Ada dua hal yang saya katakan ke istri saya (ups, waktu itu masih calon) beberapa bulan sebelum mencoba memantapkan hati untuk berbicara dengan calon mertua. Yang pertama saya katakan adalah keinginan saya untuk menikah di bulan Muharram, di mana saat itu bulan Muharram bertepatan dengan bulan Desember. Kemudian yang kedua, yang pasti akan selalu saya ingat, &#8220;Kalau kita gak bisa menikah sebelum tahun 2010, kita sudahi saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Dengan kata lain, saya harus sudah menikah di bulan Desember tahun 2009!</p>
<p>Lagi-lagi saya mencoba untuk memperbesar taruhan saya. Sedikit nekat memang. Tapi saya akui dengan tantangan yang saya perbesar itu saya semakin menemukan ide-ide kreatif untuk mendukung angan-angan saya. Mental semakin terasah, dan ketetapan hati semakin bulat. Kalau saya tidak bisa menikah dengan calon istri saya waktu itu sesuai target, saya masih bisa mencari calon mertua lain. Alhamdulillah, sukses!</p>
<p>Dan kembali saya ingat, ternyata rangkaian angan ini tidak dimulai ketika saya pertama kali mengikrarkan niat di depan guru-guru saya di SMA. Dialog dengan seorang guru saya, M. Faedhullah namanya, menguatkan keyakinan saya akan pentingnya berangan-angan dan mencari tantangan. Di tengah-tengah pelajaran, saya yang ketika itu duduk di kelas 3 SMP ditanya oleh beliau, &#8220;Kamu mencari istri yang seperti apa nantinya?&#8221;</p>
<p>Ketika itu saya jawab kalau saya mencari yang berjilbab! Bukan hanya sekedar mengenakan jilbab, tapi juga menjaga hijabnya dengan sempurna. Dengan demikian, pilihan untuk mendapatkan istri yang tidak menjaga auratnya sangat-sangat tertutup. Bagaimana hasilnya? Alhamdulillah. Soal hijab ini selalu saya wanti-wanti ke istri saya sejak sebelum menikah dulu sampai sekarang.</p>
<p>Dan sekarang, di antara beberapa angan-angan saya, saya punya satu lagi angan-angan dan tantangan besar yang menunggu untuk diwujudkan. Saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan saya sekarang dan fokus sepenuhnya untuk beralih pada profesi yang dilakoni <a href="http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/siapakah-abdurrahman-bin-auf.htm" target="_blank">Abdurrahman bin &#8216;Auf</a>, bekerja mandiri dan membuka lapangan pekerjaan baru. Kaum muslimin butuh Abdurrahman bin &#8216;Auf lainnya.</p>
<p>Insya Allah suatu hari nanti pasti terwujud. Ya Allah, kabulkanlah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/yang-harus-terkatakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nrimo lan Ora Ngoyo&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 15:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=606</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, di negeri antah berantah, seorang menantu dan mertuanya sedang menilik sebuah rumah yang tampaknya baru selesai direnovasi. Rumah mungil dengan taman kecil di dalamnya itu terlihat cukup nyaman untuk sepasang suami istri yang baru setahun lebih menikah. Eh, ini bukan cerita soal kami. Bener&#8230; Ah, rupanya rumah ini adalah pemberian dari sang mertua untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, di negeri antah berantah, seorang menantu dan mertuanya sedang menilik sebuah rumah yang tampaknya baru selesai direnovasi. Rumah mungil dengan taman kecil di dalamnya itu terlihat cukup nyaman untuk sepasang suami istri yang baru setahun lebih menikah. Eh, ini bukan cerita soal kami. Bener&#8230;</p>
<p>Ah, rupanya rumah ini adalah pemberian dari sang mertua untuk anak lelakinya dan menantunya yang dibeli dan kemudian direnovasi sana-sini agar terlihat lebih indah dan nyaman. Kalau dihitung-hitung sepertinya renovasi tersebut telah memakan cukup banyak biaya.</p>
<p>Dan sore itulah saatnya sang menantu dan mertuanya datang menengok rumah tersebut&#8230;</p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Gimana ?? Enak rumahnya ??</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Yaaa&#8230; enak sih, bu.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Tinggal furniturenya insya Allah jadi minggu depan.</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Iyah, bu. Cuma&#8230; Kok buffet lamanya ga jadi dicat sih, bu ?? Katanya mau dicat ?? Kan kalau dicat jadi ga keliyatan kusem kayak gitu&#8230;</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: (sambil sedikit menahan rasa jengkel) Lha kan emang ga dicat. Kalau dicat tu jatuhnya bisa mahal sekali, apalagi mesti pake cat duco. Lagipula ini udah enak kok rumahnya, walaupun pake buffet yang lama.</em></p>
<p><span id="more-606"></span><em><strong>Menantu</strong>: Hoo&#8230; Oiya, bu. Ngomong-ngomong model gordennya yang ini aja deh, bu. Jangan yang kemarin.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Lha, emang kenapa sama yang kemarin ??</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Bagusan yang ini, bu&#8230;.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: &#8230;%$^%#@$^% !!!</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Di belahan bumi yang lain, tampak seorang lelaki renta seorang mengayuh sepeda dengan peluh membasahi pakaiannya. Tak kenal lelah, lelaki itu terus menerjang panasnya terik matahari serta asap kendaraan yang hitam mengepul.</p>
<p>Lelaki tersebut adalah seorang mantan atlet lari kelas manula yang nyaris membawa nama Indonesia ke kancah dunia lewat bidang atletik kelas manula. Banyak medali telah diraihnya, mulai dari tingkat daerah hingga tingkat nasional. Namun sayang, sebuah kecelakaan telah mematahkan kakinya hingga ia gagal mewakili Indonesia di perhelatan internasional.</p>
<p>Saat kondisi kakinya sudah membaik, ia ingin terus berlari. Namun keadaan sudah berubah. Peraturan daerah mengharuskannya merogoh saku sendiri untuk menutupi biaya akomodasi jika ingin terus mengikuti pertandingan di luar kota. Tak ada kata subsidi untuk atlet sepertinya. Hingga jadilah ia saat ini menjadi tukang becak.</p>
<p>Becak bukanlah hal yang asing untuknya, karena memang sebelum lelaki renta ini menggeluti bidang atletik manula, ia adalah seorang tukang becak. Jadi wajar saja kalau dia memiliki stamina yang cukup okeyh untuk orang seusianya.</p>
<p>Kehidupannya ia lalui dengan penuh kesederhanaan. Tak pernah ia mengeluhkan keadaan, hanya berusaha saja yang terus ia lakukan. Pantang menyerah! Berbagai pekerjaan serabutan ia lakoni di waktu senggangnya. Namun tetap saja, itu semua tak mampu menutupi kebutuhan kehidupan yang harganya terus melambung.</p>
<p>Yang paling saya ingat dari lelaki renta ini adalah moto hidupnya: <strong><em>Nrimo lan ora ngoyo&#8230;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dua babak kehidupan yang berbeda telah tergambar sangat jelas di depan mata kita. Yang harus kita lakukan adalah IQRO&#8217;, membaca dan menelaah setiap kejadian di muka bumi ini.</p>
<p>Jadi, sudah tau kan apa yang bisa kita baca dari dua kisah tadi ??  <img src='http://www.aditdanniez.com/wp-content/plugins/smilies-themer/YM/1.gif' alt=':)' class='wp-smiley' title="gambar Nrimo lan Ora Ngoyo..." /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benih&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/benih/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/benih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 03:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit-nya niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, hampir 3 bulan sudah usia pernikahan kami. Suasana walimah yang mungkin sedikit terasa mewah dan syar&#8217;i kala itu masih terasa membekas di kepala dan hati ini. Lega dan sedikit terselip rasa bangga akan bentuk acara pernikahan islami yang kami idamkan terlaksana. Mudah-mudahan ini bukan kesombongan ya Allah&#8230; Tapi jujur, 3 bulan itu merupakan waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, hampir 3 bulan sudah usia pernikahan kami. Suasana walimah yang mungkin sedikit terasa mewah dan syar&#8217;i kala itu masih terasa membekas di kepala dan hati ini. Lega dan sedikit terselip rasa bangga akan bentuk acara pernikahan islami yang kami idamkan terlaksana. Mudah-mudahan ini bukan kesombongan ya Allah&#8230;</p>
<p>Tapi jujur, 3 bulan itu merupakan waktu yang terasa tidak sedikit. Bagi saya, 3 bulan setelah menikah itu terasa lebih lama dibanding 3 bulan sebelum menikah. Belakangan ini sepertinya ada beban baru yang menempel di pundak saya. Ada tanggung jawab baru, dan juga resiko-resiko baru yang setiap saat dapat menyergap. Mungkin kalau kata iklan, &#8220;lebih terasa <em>taste</em> nya,&#8221;</p>
<p>Guru-guru saya pernah mengatakan bahwa pernikahan dan keluarga itu adalah madrasah peradaban di mana ilmu nya tidak akan bisa diraih sebelum langsung menjalani langsung madrasah tersebut. Saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut. <em>Well</em>, mungkin ada benarnya juga kata kebanyakan orang yang bilang kalau segala sesuatu itu butuh perencanaan dan ilmu tentunya, termasuk pernikahan.</p>
<p><span id="more-602"></span>Tapi terkadang, segala perencanaan di atas kertas bisa berubah jauh setelah menyelami samudera kehidupan. Yah, Allah memang Maha Berkehendak. Terkadang, apa yang sudah direncanakan sedikit atau bahkan melenceng jauh dari perkiraan.</p>
<p>Atas dasar seperti di atas, banyak yang berpikir kembali untuk terikat ke dalam sebuah ikatan suci. Biasanya muncul beragam keraguan, menikah atau tidak. Tapi setidaknya bagi saya, hal tersebut justru memunculkan motivasi tersendiri. Buat saya kuncinya cuma satu, yakin dengan Sang Pemilik Makhluk. Biar nanti Allah yang akan membuktikan janji-Nya.</p>
<p>Memang, semua itu tergantung dari niat dan tujuan masing-masing pasangan. Apakah akan merengkuh dunia, ataupun memeluk akhirat, ataupun mengejar keduanya. Semua itu kembali kepada individu masing-masing.</p>
<p>Sempat ada yang bertanya atau mempermasalahkan soal kemapanan dan status pada saya. Dan saya yakin persoalan seperti itu bukan saya saja yang mengalami. Tapi yakin deh, segala sesuatu itu ada fase nya. Dari benih, hingga mekar berbunga. Pertanyaannya adalah, siapkah kita untuk kembali kepada fase benih jika memang sebelumnya telah berada pada kondisi yang telah berbunga di bawah naungan sebuah belaian kasih?</p>
<p>Mungkin selama ini kita menikmatinya mengalir  nyaman, meski sesekali karang keras membentur. Tetapi tak terpikirkah  kita bahwa memprogram hidup akan meningkatkan kualitas diri, dari  terhanyut menjadi berenang, dari tenggelam menjadi menyelam, dan dari  terarus menjadi berlayar?</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><strong>Ya Allah, luruskan niat dan kuatkan <em>azzam</em> bagi siapapun yang dilanda keraguan&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/benih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terlabuhkan</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/terlabuhkan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/terlabuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 03:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit &#38; niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Terlabuhkan sudah lelah diri Tersandarkan sudah rindu hati Terima kasih Ya Rabbi atas pernikahan ini Belahan jiwa lelah kunanti Telah kujumpai Telah menjadi bagian diri Syukurpun terucap dari relung hati Doa pun mengalun sepenuh jiwa Dan dua hati menyatu kini Janji telah terucapkan Bersama arungi hari Rindu tuk berbagi doa segera terjalani Rindu tuk berbagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/12/rose.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-554" title="Rose" src="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/12/rose.png" alt="Walimah Adit dan Niez" width="240" height="240" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Terlabuhkan sudah lelah diri<br />
Tersandarkan sudah rindu hati<br />
Terima kasih Ya Rabbi atas pernikahan ini<br />
Belahan jiwa lelah kunanti<br />
Telah kujumpai<br />
Telah menjadi bagian diri</p>
<p style="text-align: center;">Syukurpun terucap dari relung hati<br />
Doa pun mengalun sepenuh jiwa<br />
Dan dua hati menyatu kini<br />
Janji telah terucapkan<br />
Bersama arungi hari</p>
<p style="text-align: center;">Rindu tuk berbagi doa segera terjalani<br />
Rindu tuk berbagi asa segera terjalani<br />
Hari-hari menempuh samudera berlayar di jalan-Mu<br />
Ya Allah bimbinglah kami selalu</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #f5f2eb;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>(Seismic &#8211; Terlabuhkan)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/terlabuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulai dari Diri Sendiri</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 09:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Qalbu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=399</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini Jakarta macet sekali. Ribuan mobil, motor, bus, angkot, bahkan pedagang kaki lima bergumul dalam asap knalpot di satu ruas jalan. Dengan kecepatan yang sangad lambat, pengguna-pengguna jalan ini saling berdesakan dan menyerobot jalan. Teriak makian dan bunyi klakson pun mewarnai atau mungkin memperkeruh suasana jalan yang memang sudah keruh. Walaupun pemerintah sudah memperlebar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-408" title="macet" src="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/02/macet.gif" alt="Mulai dari Diri Sendiri" width="208" height="180" />Pagi ini Jakarta macet sekali. Ribuan mobil, motor, bus, angkot, bahkan pedagang kaki lima bergumul dalam asap knalpot di satu ruas jalan. Dengan kecepatan yang sangad lambat, pengguna-pengguna jalan ini saling berdesakan dan menyerobot jalan. Teriak makian dan bunyi klakson pun mewarnai atau mungkin memperkeruh suasana jalan yang memang sudah keruh.</p>
<p>Walaupun pemerintah sudah memperlebar jalan serta membangun <em>fly-over</em> dan <em>underpass</em>, namun hal ini ternyata tidak mengubah kemacetan yang terjadi karena pembangunan tersebut tetap tidak sebanding dengan pertambahan banyaknya kendaraan di Jakarta. Belum lagi sopir angkot yang kerap ngetem di pertigaan dan perempatan jalan sehingga menghambat pengguna jalan yang berada di belakangnya. Kemudian pedagang kaki lima yang dengan santainya berjualan di badan-badan jalan tanpa mempedulikan bahwa tindakan mereka ini semakin menghambat laju kendaraan di jalan.</p>
<p><span id="more-399"></span>Dan masih banyak lagi penyebab kemacetan yang ternyata lebih berkonotasi pada &#8216;mereka&#8217;. Apakah memang semuanya &#8216;mereka&#8217; yang salah ?? Bagaimana dengan &#8216;kita&#8217; sebagai pengguna jalan ?? Kita dengan santainya main serobot jalan tanpa mempedulikan pengguna jalan yang lain. Kita dengan egoisnya menyeberang jalan di sembarang tempat tanpa pernah memikirkan efek dari tindakan kita. Kita dengan sesuka hati menunggu angkot di perempatan dan pertigaan jalan sehingga menarik minat para sopir angkot untuk ngetem di sana. Kita dengan bangganya membeli jajanan dari pedagang kaki lima di pinggir jalan tanpa harus repot-repot turun dari mobil dengan alasan &#8216;malas&#8217;, tanpa menggubris teriakan pengguna jalan di belakang kita yang lajunya terhambat oleh mobil kita.</p>
<p>Kurang lebih begitulah yang dipaparkan oleh <a title="Azimah Rahayu" href="http://azimahr.multiply.com/" target="_blank"><em>Azimah Rahayu</em></a> pada salah satu bab dalam buku <em>&#8216;<a title="Karena Aku Begitu Cantik" href="http://www.sygmacorp.com/index.php?page=shop.product_details&amp;category_id=6&amp;flypage=flypage_new.tpl&amp;product_id=67&amp;option=com_virtuemart&amp;Itemid=26" target="_blank">Karena Aku Begitu Cantik</a>&#8216;</em>. Yak, saat ini kita kerap berpendapat bahwa kemacetan lebih disebabkan oleh orang lain, padahal ternyata kemacetan itu timbul akibat ulah kita sendiri. Kita terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain, tanpa mau mengakui kesalahan diri kita yang ikut andil dalam membentuk sebuah suasana nyata yang biasanya buruk. Seperti sebuah peribahasa yang menyatakan: <em>Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak</em>.</p>
<blockquote><p><strong>Padahal kalau kita mau berpikir lebih dalam lagi, akan lebih mudah bagi kita untuk membuat suasana yang ada menjadi jauh lebih baik dengan cara memperbaiki diri ketimbang harus mengumpat dan mengubah orang lain.</strong></p></blockquote>
<p>Sama seperti kita yang suka menyalahkan pemerintah dalam penanganan banjir di Indonesia, padahal kita masih suka membuang sampah di saluran pembuangan dan membangun gedung-gedung di daerah resapan. Uhuhuuu&#8230;</p>
<p>Dalam sebuah episode Nanny 911, seorang bapak sibuk menyalahkan kenakalan anak lelakinya dan berusaha keras ingin mengubah perilaku anaknya itu. Usut punya usut, ternyata si Nanny berhasil menemukan bahwa kenakalan anak itu disebabkan oleh perbuatan bapaknya sendiri yang terlalu memanjakan si anak. Si Bapak yang keras kepala tetap tidak mau mengakui bahwa kesalahan ada padanya, hingga akhirnya si Nanny berhasil menyadarkan si Bapak. Setelah si Bapak mengevaluasi diri, akhirnya anaknya yang bandel itu pun menjadi lebih mudah dikontrol.</p>
<p>Kadang kita begitu sering menyalahkan orang lain atas suatu keadaan yang menimpa kita. Padahal kalau kita mau menyadari kesalahan kita dan berusaha untuk mengevaluasi diri serta melembutkan hati, alangkah jauh lebih baik untuk kita dapat menerima atau bahkan mengubah keadaan tersebut.</p>
<p>Seperti seseorang yang pernah bercerita begini kepada saya, &#8220;Ada beberapa hal yang sampe saat ini ga bisa aku terima, salah satunya adalah masa laluku. Aku sering menyalahkan masa laluku yang kemudian membentuk pribadiku jadi kayak gini. Kenapa sih dulu aku begini dan begitu ?! Hal ini sering banget mengusik pikiranku. Aku masih ga bisa menerima masa laluku ituh.&#8221;</p>
<p>Memang kadang kita sering menyesal bahkan mengutuk keadaan kita di masa lalu. Padahal kita tahu pasti bahwa kita tidak akan pernah bisa mengubahnya. Bukankah dengan kita memaki-maki masa lalu, cuma akan membuang sia-sia energi kita ?? Yang bisa kita lakukan saat ini adalah evaluasi diri, memperbaiki diri, dan berusaha agar kejadian di masa lalu itu tidak terulang di saat ini dan masa depan.</p>
<p>Pernah dalam suatu kajian, ustadz saya berkata begini, &#8220;<em>Jika kejadian buruk menimpa kita, itu bisa merupakan ujian atau bahkan hukuman dari Allah. Kalau kita sering melakukan dosa, maka itu bisa jadi hukuman, dan kita mesti bertobat. Kalau kita merasa tidak pernah melakukan suatu kesalahan, maka itu bisa jadi sebuah ujian untuk kita. Nah masalahnya, kalau kita merasa suci, justru itulah kesalahan kita.&#8221;</em></p>
<p>Seperti ketika orang tua yang dihadapkan pada seorang anak yang berwatak keras dan pemarah. Pada saat itu Allah bisa jadi sedang menguji kesabaran orang tuanya. Dalam keadaan tersebut hanya kesabaran orang tualah yang bisa membuat keadaan menjadi lebih baik. Hati orang tua akan lebih tenang karena tetap bersabar. Dengan demikian insya Allah akan turut mengetuk hati si anak agar berlaku lebih lembut dan sabar.</p>
<p>Beberapa waktu lalu Aa&#8217; Gym juga berkata begini, &#8220;<em>Kita tidak usah terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain yang kita harus mengubahnya. Kewajiban kita hanya mengingatkan, kalau memang tidak ada perubahan maka sudah gugurlah kewajiban kita itu. Maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah tobat. Karena kalau kita senantiasa mengevaluasi diri, maka insya Allah, Allah akan menolong kita. Jadi, tobat adalah salah satu kunci untuk bisa ridha pada suatu kenyataan.&#8221;</em></p>
<p>Dalam Al-Qur&#8217;an juga telah disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 155:</p>
<p><em>&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang <strong>sabar.</strong>&#8220;</em></p>
<p>Jadi, kalau sesuatu yang buruk menimpa kita, siyapa yang salah ?? Siyapa yang harus memperbaiki diri dahulu ??</p>
<p>Klo kata Aa&#8217; Gym:</p>
<blockquote><p><strong>Mulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang !!</strong></p></blockquote>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #c0c0c0;"><em>Gambar di atas dipinjam dari <a href="http://kampungwacana.wordpress.com/" target="_blank">sini</a>.</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Katakan Cinta</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/katakan-cinta/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/katakan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 09:11:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit-nya niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas ra, ia berkata: Ada seorang laki-laki duduk di hadapan Nabi SAW, kemudian ada seseorang yang lewat di situ, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata: &#8220;Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mencintai orang itu,&#8221; Nabi SAW bertanya: &#8220;Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya?&#8221; Dia menjawab: &#8220;Belum.&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Beritahukanlah kepadanya!&#8221; Kemudian dia menemui orang itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Dari Anas ra, ia berkata: Ada seorang laki-laki duduk di hadapan Nabi SAW, kemudian ada seseorang yang lewat di situ, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata: &#8220;Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mencintai orang itu,&#8221; Nabi SAW bertanya: &#8220;Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya?&#8221; Dia menjawab: &#8220;Belum.&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Beritahukanlah kepadanya!&#8221; Kemudian dia menemui orang itu dan berkata: &#8220;Sesungguhnya saya mencintaimu karena Allah.&#8221; Orang itu menjawab: &#8220;Semoga kamu dicintai oleh Zat yang menjadikanmu mencintaiku karena-Nya.&#8221;<br />
(HR Abu Daud)</p></blockquote>
<p><a href="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/01/love-palestine.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-363" style="border: 1px solid #444444; margin-top: 5px;" title="Ana bahib filistiin" src="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/01/love-palestine-300x212.jpg" alt="Ana bahib filistiin" width="153" height="108" /></a>Di saat kamu menderita karena perang yang berkecamuk, di sini kami berdoa agar kamu diberikan pertolongan dan kemudahan dari Allah. Di saat yang lain disibukkan dengan urusannya masing-masing, di sini banyak dari kami yang melakukan aksi kepedulian dengan demonstrasi (terlepas dari segala kontroversinya), penggalangan dana, dan lain sebagainya.</p>
<p>Mungkin kami memang tidak bisa ikut langsung membantu perjuanganmu di sana. Dan kami tahu, mungkin kamu di sana berkata lantang untuk melihat kepedulian kami, &#8220;Ayo tunjukkanlah padaku! Tunjukkan!&#8221;</p>
<p><span id="more-357"></span>Apa yang bisa kami tunjukkan? Jujur, kami malu melihat diri kami sendiri yang tidak bisa berbuat banyak untuk membantumu di sana. Hanya sekedar doa dan sedikit bantuan materi yang mungkin bisa kami berikan. Kawan, teruskan dan jangan pernah hentikan doamu untuk mereka di sana!</p>
<p>Kami ingin menyatakan bahwa kami masih peduli terhadapmu, saudaraku. Meski mungkin hanya ini yang bisa kami lakukan. Sungguh kami tahu bahwa kamu di sana juga <a href="http://www.detiknews.com/read/2009/01/30/205433/1077085/10/warga-gaza-sambut-hangat-tim-kemanusiaan-dari-indonesia" target="_blank">mencintai kami</a> dengan memegang teguh agama-Nya. Maaf jika balasku tidak sebesar cintamu. Tapi sungguh, kami sangat mencintaimu karena Allah&#8230;</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Gambar ana bahib filistiin diambil dari <a href="http://atsilusgi.deviantart.com/art/Ana-Bahib-Falasteen-36129212" target="_blank">sini</a>.</p>
<p><strong>Allahumma unshuril mujahidina fi filistiin&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/katakan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
