<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>aditdanniez.com &#187; Ruang Keluarga</title>
	<atom:link href="http://www.aditdanniez.com/kanal/ruang-keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aditdanniez.com</link>
	<description>di sini tempat kami berteduh...</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 16:44:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Namamu Umar!</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/namamu-umar/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/namamu-umar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 23:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=921</guid>
		<description><![CDATA[Ahlan wa sahlan ya Umar&#8230; Kehadiranmu telah dinanti. Tepat setelah kelahiranmu, kulafalkan Umar Abdurrahman sebagai nama yang kuselipkan di dalamnya doa untukmu. Ketahuilah Nak, kenapa kamu dinamakan Umar? Lihatlah kepada sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab, amirul mukminin. Kelak, kau akan mengetahui siapa beliau, seseorang yang kuharapkan bisa dijadikan salah satu tauladan terbaik dalam hidupmu. Sesuai namamu&#8230; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ahlan wa sahlan ya <a href="http://www.aditdanniez.com/album/kini-kau-hadir-di-sisi/" target="_blank">Umar</a>&#8230;</p>
<p>Kehadiranmu telah dinanti. Tepat setelah kelahiranmu, kulafalkan Umar Abdurrahman sebagai nama yang kuselipkan di dalamnya doa untukmu.</p>
<p>Ketahuilah Nak, kenapa kamu dinamakan Umar? Lihatlah kepada sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab, <em>amirul mukminin</em>. Kelak, kau akan mengetahui siapa beliau, seseorang yang kuharapkan bisa dijadikan salah satu tauladan terbaik dalam hidupmu. Sesuai namamu&#8230;</p>
<p>Dan &#8216;Abdurrahman&#8217;, kusandingkan tepat di sebelah nama salah seorang hamba terbaik (Umar bin Khattab) dari generasi terbaik ummat akhir zaman ini.</p>
<p><span id="more-921"></span></p>
<p style="text-align: right; font-size: large;">إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman,&#8221;</em><br />
(HR. Muslim)</p>
<p>Kamu, adalah salah satu orang yang beruntung, terlahir sebagai muslim. Maka, jangan pernah engkau mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Jangan pernah ada tandingan untuk-Nya dalam cinta! Apa jadinya bila Ia cemburu? Bukankah cemburu-Nya jauh lebih dahsyat dibanding Sa&#8217;ad ibn &#8216;Ubadah, pencemburu terberat seantero Madinah?</p>
<p>Maka berjalan dan berlarilah kamu di bumi ini seperti Umar, <em>amirul mukminin</em>. Ia merupakan orang yang zuhud akan dunia, namun ketika berjalan ia percepat langkahnya, ia selesaikan urusannya, ia tegakkan aturan-Nya tanpa pandang bulu hanya untuk-Nya.</p>
<p>Umar <em>al-Faruq</em> sang penakluk 2 imperium besar, membuat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Patriark" target="_blank">patriark</a> Yerussalem kala itu, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sophronius" target="_blank">Sophronius</a> dengan pakaian mewah berkilauan sampai hati berkata kepadanya yang berjubah lusuh dan penuh jahitan, &#8220;Saya tidak pernah menyesali menyerahkan kota suci ini, karena saya telah menyerahkannya kepada ummat yang lebih baik,&#8221;</p>
<p>Nak,  jadilah hamba dari Tuhan para hamba&#8230;</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>* Teringat janji yang dituliskan pada sebuah tulisan seorang <a href="http://catatanrifa.wordpress.com/2008/11/14/arti-nama/" target="_blank">kawan</a> lebih dari 2 tahun lalu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/namamu-umar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aliran Anti Vaksin</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/aliran-anti-vaksin/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/aliran-anti-vaksin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 13:13:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[Ya ya&#8230; Saya tau judul tulisan ini sangat berlebihan. Jadi begini, beberapa waktu lalu Umar bersama abi dan ummi nya pergi ke rumah sakit Hermina Jatinegara untuk kontrol setelah perawatan bilirubinnya dinyatakan tuntas. Nah, setelah selesai memeriksakan kondisi Umar, terjadi percakapan berikut ini: . Dokter: Lho, ini belum divaksin ya anaknya? Saya kasih vaksin polio ya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya ya&#8230; Saya tau judul tulisan ini sangat berlebihan. Jadi begini, beberapa waktu lalu Umar bersama abi dan ummi nya pergi ke rumah sakit Hermina Jatinegara untuk kontrol setelah <a href="http://www.aditdanniez.com/album/umar-masuk-rumah-sakit-lagi/">perawatan bilirubinnya</a> dinyatakan tuntas. Nah, setelah selesai memeriksakan kondisi Umar, terjadi percakapan berikut ini:</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><strong>Dokter:</strong> <em>Lho, ini belum divaksin ya anaknya? Saya kasih vaksin polio ya.</em></p>
<p><strong>Abi:</strong> <em>Coba tanya ibunya dulu, Dok!</em></p>
<p><strong>Dokter:</strong> <em>Gimana Bu, saya kasih ya?</em></p>
<p><strong>Ummi:</strong> <em>Tanya ke bapaknya aja,</em></p>
<p><strong>Abi:</strong> <em>Ga usah dulu aja, Dok.</em></p>
<p><strong>Dokter:</strong> <em>Yakin?</em></p>
<p><strong>Abi:</strong> <em>Insya Allah yakin,</em></p>
<p><strong>Dokter:</strong> <em>Ini emang aliran apa sih? Kayaknya pasien saya juga banyak yang ga mau dikasih.</em></p>
<p><span id="more-871"></span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Mendengar itu saya senyum-senyum saja. Mungkin tampilan luar saya yang sedikit berjanggut ini ditambah pakaian serba menutup aurat yang dipakai istri saya ikut mempengaruhi penilaian pak dokter itu.</p>
<p>Mencoba santai, saya beranikan menjawab pertanyaan pak dokter tadi. Mungkin dokter tau kalau di luar sana ada anggapan kalau ternyata vaksin itu berbahaya, ada efek sampingnya. Tapi yang jadi alasan saya untuk menolak anak saya divaksinasi bukan itu.</p>
<p>Saya cuma khawatir sama vaksinnya. Setau saya, beberapa vaksin memang tidak jelas sumber atau bahan-bahan pembuatnya. Seperti misalnya enzim babi atau yang lainnya. Itu yang jadi alasan saya.</p>
<p><strong>Dokter:</strong> <em>Oh, berarti alasannya emang karena sumber gak jelas itu ya,</em></p>
<p>Alhamdulillah, pak dokter nya cukup <em>open minded</em> menerima penjelasan saya. Tapi jujur, saya bukannya mau sok tau atau sok pintar dengan mengatakan anak saya tidak butuh vaksinasi. Tidak, sama sekali tidak! Bahkan terbersit juga rasa khawatir dalam diri saya bagaimana seandainya anak saya menderita beberapa penyakit yang disebabkan karena tidak diberikan vaksinasinya. Tapi semoga itu tidak terjadi, Ya Allah.</p>
<p>Saya berkali-kali mengatakan ke istri saya kalau sebodoh-bodohnya dokter dalam hal medis, masih lebih bodoh kita semua yang bukan dokter. Jadi maksud saya, sudah kewajiban kita menuruti saran-saran orang yang memang memiliki ilmu di bidangnya, dalam kasus ini dokter. Insya Allah tidak ada dokter yang hendak mencelakakan pasiennya dengan disengaja.</p>
<p>Tapi, kalau ternyata berkaitan dengan urusan halal-haram, saya tidak kenal yang namanya toleransi. Memang, MUI sudah mengeluarkan fatwa bahwa bila belum ada alternatif lain, penggunaan vaksin yang selama proses pembuatannya menggunakan bahan-bahan seperti enzim babi atau semacamnya diperbolehkan karena alasan terpaksa.</p>
<p>Meski begitu, tidak ada salahnya bila saya hendak meninggalkan keragu-raguan. Bagi saya, mengusahakan agar sesuatu yang haram tidak masuk ke dalam tubuh jauh lebih harus didahulukan dibanding sekedar anjuran untuk imunisasi.</p>
<p>Saya sedikit menggunakan logika bodoh, kakek-nenek saya dan juga beberapa keluarga saya tidak divaksinasi dan Alhamdulillah sampai sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda yang tidak diinginkan. Kakek saya masih segar bugar di usianya yang telah senja.</p>
<p>Tapi biar begitu, saya juga berharap sekaligus berdoa agar ke depannya tersedia vaksin yang bebas dari unsur-unsur haram (atau setidaknya yang meragukan) yang bisa dengan mudah didapatkan oleh orang-orang yang memiliki kekhawatiran seperti saya. Termasuk juga vaksin meningitis untuk ibadah haji yang sebagian besar masih mengandung atau menggunakan enzim babi dalam proses pembuatannya. Ya Allah, berangkatkan saya haji dengan cara yang baik dan halal, yaitu cara yang tidak &#8220;merusak&#8221; tubuh saya.</p>
<p>Oh iya, pada saat kontrol tersebut, ternyata tali pusar nya Umar sudah puput. Pak dokter beserta susternya langsung mengambil tindakan.</p>
<p><strong>Dokter:</strong> <em>Ini kalau dikasih (red: dioles) alkohol boleh kan ya?</em></p>
<p>Gubrak!  <img src='http://www.aditdanniez.com/wp-content/plugins/smilies-themer/YM/21.gif' alt="Aliran Anti Vaksin" class='wp-smiley' title="gambar Aliran Anti Vaksin" /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/aliran-anti-vaksin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sadarkah Kamu?</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/sadarkah-kamu/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/sadarkah-kamu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 03:30:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[Hey, sadarkah kamu? Bila Allah menyayangimu, bukan berarti bahwa Ia hanya memberimu dunia dengan segala kemudahannya. Tidak juga selalu Ia mengabulkan segala permohonanmu. Sadarlah! Bahwa Allah menyangimu juga dengan cara memberikan masalah dan ujian untuk diatasi. Bayangkan bila Allah selalu memberimu nikmat kemudahan, tanpa pernah memberimu sedikit remah kesulitan. Mungkin kamu akan merasa ujub terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hey, sadarkah kamu? Bila Allah menyayangimu, bukan berarti bahwa Ia hanya memberimu dunia dengan segala kemudahannya. Tidak juga selalu Ia mengabulkan segala permohonanmu. Sadarlah! Bahwa Allah menyangimu juga dengan cara memberikan masalah dan ujian untuk diatasi.</p>
<p>Bayangkan bila Allah selalu memberimu nikmat kemudahan, tanpa pernah memberimu sedikit remah kesulitan. Mungkin kamu akan merasa <abbr title="Bangga diri">ujub</abbr> terhadap dirimu sendiri, bahkan mungkin kamu akan merasa bahwa seolah-olah kamu ialah hamba terbaik-Nya.</p>
<p>Subhanallah&#8230; Ini baru di dunia, <em>mini world</em> nya alam akhir nanti. Bagaimana nanti ketika sampai pada alam akhirat, tempat di mana segala permasalahan menumpuk. Bukan hanya  untuk diatasi, namun juga untuk dirasakan balasannya.</p>
<p>Sadarkah kamu? Allah akan tetap mengujimu dengan ujian yang jauh lebih berat dibandingkan yang telah kamu jalani. Tahukah kamu? Allah tetap akan mengujimu, sebagai bagian dari seleksi-Nya. Kamu kah hamba pilihan-Nya?</p>
<p><span id="more-446"></span>Ia percaya kamu bisa, mengapa kau ragu? Dan kini Ia telah buktikan <a href="http://walimah.aditdanniez.com" target="_blank">janji</a>-Nya. Maka nikmat yang mana lagi yang akan kau dustai?</p>
<p>Terima kasih Allah, Kau berikan aku kesempatan untuk belajar. Tuk melihat bagaimana janji-Mu dapat membuat segala harapan terjadi&#8230;</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><strong>Draft lama yang baru dipublish. Sebuah kilas balik di saat diri ini ragu untuk melangkah ke depan&#8230;<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/sadarkah-kamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>H-1 Bulan</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/h-1-bulan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/h-1-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 03:38:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=762</guid>
		<description><![CDATA[Perut ini semakin buncit saja. Lingkarnya saja sudah menunjukkan angka 100 cm tadi siyang. Saat-saat tidur nyenyak pun menjadi momen yang sangat berharga untuk saya, karena semakin susah pula badan ini diatur posisinya sehingga membuat saya sering terbangun hanya untuk sekedar membetulkan posisi tidur. Dia yang ada di dalam juga sudah menendang semakin kencang, bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2010/10/pacifiers_watermark.png"><img class="alignleft size-full wp-image-764" style="border: 1px solid #ceb8a3;" title="Dot Bayi" src="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2010/10/pacifiers_watermark.png" alt="H 1 Bulan" width="128" height="128" /></a>Perut ini semakin buncit saja. Lingkarnya saja sudah menunjukkan angka 100 cm tadi siyang. Saat-saat tidur nyenyak pun menjadi momen yang sangat berharga untuk saya, karena semakin susah pula badan ini diatur posisinya sehingga membuat saya sering terbangun hanya untuk sekedar membetulkan posisi tidur. Dia yang ada di dalam juga sudah menendang semakin kencang, bahkan goncangannya berhasil membuat saya terbangun dari tidur yang sudah nyenyak.</p>
<p>Tak apa.</p>
<p>Tidak pernah ada rasa jengkel ketika dia berhasil &#8220;mengganggu&#8221; tidur lelap saya. Tidak pernah juga saya marah hanya gara-gara dia &#8220;menendang&#8221; terlalu kencang. Semuanya saya nikmati.</p>
<p>Ya, saya menikmati sekali saat dimana saya susah tidur, tidak bisa lagi bergerak dengan cepat, merasakan sensasi gatal luar biasa di perut saya, dan juga saat-saat dimana Abi selalu membantu saya melakukan segala sesuatunya, bahkan untuk urusan pekerjaan rumah tangga sekalipun. (<em>Makasie ya, Abi sayang&#8230;</em> <img src='http://www.aditdanniez.com/wp-content/plugins/smilies-themer/YM/1.gif' alt="H 1 Bulan" class='wp-smiley' title="gambar H 1 Bulan" /> )</p>
<p><span id="more-762"></span>Teringat berbagai lintas berita yang bercerita tentang ibu yang tega &#8220;membuang&#8221; bayinya di toilet SPBU, di tempat sampah, di pinggir jalan, di pasar, dimana-mana-mana-mana. Setega itukah mereka ?? Yah, mungkin himpitan ekonomi yang membuat mereka membenarkan semua tindakan itu. Tapi toh, bukankah Allah sedang bermasud menambah rezeki mereka dengan hadirnya bayi-bayi itu ??</p>
<blockquote><p>&#8220;Tubuh mungil itu ditemukan kedinginan di dalam sebuah tong sampah dalam keadaan telanjang dan hanya berbalut selembar kain sejenis kerudung. Usianya masih belum genap satu minggu&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Dilema.</p>
<p>Namun menyesakkan.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Sudah H-1 bulan. Persiyapan masih belum selesai. Ada beberapa barang yang belum terbeli. Semoga masih ada waktu.</p>
<p>Ah ya, berat badan saya pun sudah semakin bertambah. Terakhir kali saya menimbang badan 3 minggu yang lalu di rumah sakit, berat badan saya sudah bertambah 11 kg. Entah berapa lagi saat ini. Saya mah tidak begitu peduli berapa pertambahan angka timbangan dari sebelum saya hamil. Yang penting dia tetap sehat.</p>
<p>Semoga nanti pada saatnya lahiran, Abi sedang ada di rumah dan Jakarta sedang tidak dilanda hujan besar apalagi banjir.</p>
<p>H-1 bulan. Semoga dia tetap dan selalu sehat dalam lindungan Allah.</p>
<p><span style="color: #c0c0c0;"><em>Gambar dipinjam dari <a href="http://graphicleftovers.com/graphic/Baby-Pacifiers1/" target="_blank">sini</a>.</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/h-1-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanti Buah Hati&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/menanti-buah-hati/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/menanti-buah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 13:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Kenanglah hari itu, saat kita berdiri dengan pakaian megah dan riasan sederhana yang anggun dan syar&#8217;i. Di belakang kita, mahligai berukir menaungi kursi berwarna menyala. Tatapan mata hadirin disejukkan wewarna bunga, yang dirangkai dalam tatanan menawan. Mereka tersenyum, dan memperhatikan khidmat di sebuah tempat indah yang dibatasi tabir sebagai pemisah antara kaum Adam dan Hawa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenanglah hari itu, saat kita berdiri dengan pakaian megah dan riasan sederhana yang anggun dan syar&#8217;i. Di belakang kita, mahligai berukir menaungi kursi berwarna menyala. Tatapan mata hadirin disejukkan wewarna bunga, yang dirangkai dalam tatanan menawan. Mereka tersenyum, dan memperhatikan khidmat di sebuah tempat indah yang dibatasi tabir sebagai pemisah antara kaum Adam dan Hawa. Kemudian satu per satu mendatangi kita, mengadu pipi, dan membisikkan doa. Ah, kira-kira seperti apa doa mereka?<em> </em></p>
<p><em>&#8220;Baarakallahu laka, wa baarakallaahu &#8216;alaika, wa jama&#8217;a bainakuma fii khair&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Selebihnya? Jangan takut! Aku adalah pakaian bagimu, engkau adalah pakaian bagiku.</p>
<p>Puji syukur kupanjatkan kepada Allah, atas segala nikmat dan karunia-Nya yang berlimpah. Salam sayang untuk kekasih hati, Rasulullah Muhammad SAW.</p>
<p><span id="more-686"></span>Menjadi ibu, pasti adalah mimpi bagi setiap wanita (tak terkecuali istri saya). Ialah mimpi yang dilatih dengan kerinduan dan asahan rasa. Seruak cita itu adalah fitrah paling indah yang dikaruniakan Allah. Seorang ibu, menjadi mulia cukup dengan telapak kaki perjuangan. Karena tak seorang pria pun, memiliki kedudukan istimewa ini: surga di telapak kaki. Tak satu pria pun. Demi Allah, tak satu pria pun&#8230;</p>
<p>Alhamdulillah, 8 bulan setelah pernikahan, Engkau memberi kami nikmat  dan mungkin bisa juga berupa ujian. Menginjak usia 7 bulan kehamilan istri saya, banyak sekali yang terjadi. Sangat banyak&#8230;</p>
<p>Ah, tentu saja yang paling terasa adalah perubahan pada perut istri yang semakin membesar. Lagi-lagi, saya pun harus bersyukur, Engkau mempertemukan kami dan juga hamba-Mu yang masih dalam kandungan ini bertemu dengan bulan Ramadhan.</p>
<p>Senang rasanya mendengungkan Quran di bulan ini, terlebih bila &#8216;didengarkan&#8217; oleh si buah hati. Target khatam pun ingin segera diraih saking semangatnya. Ah, ya Allah, jujur&#8230; Entah kenapa saya lebih suka memperdengarkan anak saya ini sebuah senandung ayat-Mu, dibandingkan dengan lantunan musik-musik yang kata banyak orang disebut musik klasik.</p>
<p>Banyak peneliti yang mengatakan bahwa memperdengarkan musik klasik bisa membantu tumbuh kembang kecerdasan anak. Itu katanya&#8230; Tapi, banyak juga kok peneliti lain yang menyimpulkan sebaliknya. Tapi, terlepas dari apapun itu, saya percaya dan insya Allah akan selalu percaya dengan keajaiban ayat-Mu, walau keajaiban ayat-Mu kini mungkin tergerus oleh popularitas anggapan manfaat musik klasik yang didengungkan peneliti barat nun jauh di sana. Jujur, saya termasuk orang yang tidak percaya dengan anggapan itu. Saya sendiri merasa terganggu jika mendengar musik-musik dilantunkan di dekat saya. Ehm, kecuali nasyid lho ya&#8230;</p>
<p>Eh, tadi pagi, aktivitas mengkhatamkan Quran saya kebetulan sampai pada QS. Maryam. Ehm, jadi ingat kata banyak orang. Katanya, kalau ibu hamil itu kudu dibacain surat itu, plus QS. Yusuf. Kudu, musti, harus! Katanya&#8230;</p>
<p>Hmm&#8230; Saya mungkin mengerti soal itu. Apalagi beberapa menyuruh kami untuk melakukannya. Kalau gak salah, di QS. Maryam itu ada kisah tentang Maryam yang melahirkan putranya, Nabi Isa. Mungkin banyak yang berpikiran dengan dibacanya surat itu, para ibu akan lebih mudah melahirkan anaknya. Okelah kalo begitu&#8230;</p>
<p>Di QS. Yusuf, diceritakan kisah tentang Nabi Yusuf yang karena ketampanannya membuat jari para ibu ketika melihatnya teriris pisau dapur saking terpananya. Ah, saya mengerti. Siapa sih orang tua yang gak mau anaknya tampan? Saya sendiri mau&#8230;</p>
<p>Tapi, kalau memang pemikirannya seperti itu, saya rasa kurang cukup. Selain tampan dan mudah untuk dilahirkan, saya juga ingin anak saya memiliki parameter lain. Saya ingin anak saya menjadi pemimpin yang bijak dan tidak menyekutukan Allah, kalau begitu saya harus membaca QS. Luqman.</p>
<p>Ah, masih kurang! Saya juga ingin anak saya setegar Nabi Ibrahim. Kalau begitu saya juga harus menambahkan bacaan QS. Ibrahim.</p>
<p>Aduh, sepertinya keluarga yang selalu mengajarkan tauhid kepada anak-anak nya kelak itu juga perlu dan penting untuk dimiliki. Hmm&#8230; Tambah QS. Al-Imran deh&#8230;</p>
<p>Ah iya, hampir lupa! Saya juga ingin anak saya memiliki akhlak seperti Rasul akhir zaman. Yah, minimalnya mau menjadikan beliau sebagai tauladan yang baik. Saya kudu baca QS. Muhammad!</p>
<p>Eits, bentar-bentar, kalau baca QS. Yusuf, nanti anak saya jadi tampan. Lha, kalo calon anak saya yang di dalam kandungan perempuan gimana? Hah, musti tambah QS. An-Nisa dong kalo gitu?</p>
<p>Tentu saja penggalan paragraf di atas itu cuma imaji belaka. Tapi, percayalah, dengan pola pikir seperti itu, pasti akan kita dapatkan bahwa membacakan ke-114 surat dalam Al-Quran itu perlu, sangat perlu! Ternyata, oh ternyata, akan jauh lebih baik kalau kita tidak hanya menghabiskan waktu dan berfokus pada hanya 1 atau 2 surat saja. Lebih bagus lagi kalau khatam! Dan saya lagi-lagi harus bersyukur berada di bulan Ramadhan ini yang pahala membaca satu huruf Quran nya dilipatgandakan. Alhamdulillah&#8230;</p>
<p>Yang seperti itu disebut oleh Ust. Subki Al-Bughury sebagai PAUD. Apa itu? Pendidikan Al-Quran Usia Dini, bahkan ketika masih di dalam kandungan. Sang buah hati sudah diperkenalkan semua (ya, semua!) ayat-Nya. Insya Allah, ketika dewasa nanti ia akan lebih mudah untuk belajar membaca Quran. Ingat, saya adalah orang yang percaya akan keajaiban Quran.</p>
<p><em>&#8220;Akhlak beliau (Rasulullah) adalah Al-Quran.&#8221;</em><br />
(HR. Muslim dan Abu Daud)</p>
<p>Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran. Tidak hanya sebatas pada surat Yusuf ataupun Maryam saja.</p>
<p>Selain alasan di atas, saya sendiri juga memiliki alasan pribadi dan prinsipil. Banyak praktek-praktek di sekitar kita yang seolah bernuansa ibadah dan terasa relijius, namun ternyata bukan bagian dari ajaran agama kita. Perkara baru yang diada-adakan dalam agama, dan diyakini menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah yang mana Rasulullah tak pernah mencontohkannya inilah yang disebut dengan <em>bid&#8217;ah</em>.</p>
<p>Salah satu jenis<em> bid&#8217;ah</em> adalah <em>bid&#8217;ah Iltizam</em>, yakni berkomitmen pada ibadah-ibadah <em>muthlaqah</em> (ibadah bebas yang tidak ditetapkan batas, cara, tempat, bilangan, maupun waktunya) yang sebenarnya tidak ditentukan &#8216;batas teknis&#8217; nya, akan tetapi kemudian dibuat dan diupayakan memberi ketentuan tentang batas, waktu, tempat, bilangan, dan ucapan yang tidak didasari syari&#8217;at lalu berkomitmen atau berniat untuk mengamalkannya menurut ketentuan yang dibuat-buat tersebut.</p>
<p>Saya hanya khawatir kami terjerumus dalam <em>bid&#8217;ah</em>. Membacakan surat Yusuf dan Maryam pada anak dalam kandungan insya Allah boleh dan sah-sah saja. Tapi, kalau kemudian dibuat sebuah ketentuan harus selalu membaca 2 surat itu, inilah yang kami hindari. Terlebih lagi, membacakan selalu dan hanya surat Yusuf dan Maryam dengan mengharapkan &#8216;keutamaan&#8217; yang diyakini banyak orang itu kepada calon buah hati tidak ada dalil syar&#8217;i nya, baik dalam Quran maupun sunnah.<em></em></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (bid&#8217;ah) dan setiap bid’ah adalah sesat,&#8221;</em><br />
(HR. Muslim)</p>
<p>Di samping khawatir jatuh kepada <em>bid&#8217;ah</em>, buat saya pribadi hal itu juga membuang-buang waktu dengan hanya membaca 2 surat tersebut. Lebih baik saya buang waktu saya untuk membaca semua surat dalam Quran. Lagipula, saya juga tidak yakin si Robert Pattinson yang kata banyak wanita memiliki wajah tampan itu ketika dalam kandungan ibunya dibacakan surat Yusuf. Gubrak!</p>
<p>Uhuk&#8230; Sampai di sini saja. Soal ini silakan datangi ustadz-ustadz kesayangan terdekat di kota Anda. Insya Allah soal yang seperti ini akan dapat dijelaskan dengan cara yang lebih baik, santun, dan jelas oleh mereka. Insya Allah&#8230;</p>
<p>Saya jadi ingat kata-kata Ibnu Mas&#8217;ud,<em> &#8220;Beringan-ringan dengan sunnah adalah jauh lebih baik daripada berpayah-payah dengan bid&#8217;ah,&#8221;</em></p>
<p>Ah, tak sabar rasanya untuk merasakan momentum ketika pertama kali sang buah hati menyapa. Tak sabar rasanya ketika saat itu aku men<em>tahnik</em>mu. Kulumatkan sebutir kurma di mulutku, lalu kusuapkan di bibir mungil sang buah hati, dan engkau kuberi nama serta kudoakan. Ya, inilah <em>tahnik</em>.</p>
<p>Rahasia mengapa seorang bayi yang baru lahir dianjurkan untuk di<em>tahnik</em> adalah: <em>Wallahu a&#8217;lam bi al-shawab</em>. Karena Rasulullah sendiri pun tidak menjelaskan manfaatnya. Namun, kalau kita ingin mencari hikmahnya, maka bisa didapatkan bahwa memang benar makanan terbaik bagi bayi adalah zat yang terdapat dalam air susu ibu yang pertama, namun <em>tahnik</em> membuat bayi untuk dapat melatih reflek bibirnya agar siap melakukan aktivitas &#8216;menyusu&#8217; pada ibunya. <em>Wallahu a&#8217;lam bi al-shawab.</em></p>
<p>Ya Allah, jagalah kami dan anak kami selama dalam kandungan dan berilah kami kesehatan dan kesembuhan, tak ada obat kecuali obat-Mu yang tidak akan membawa penyakit.</p>
<p>Ya Allah, bentuklah anak kami dengan bentuk yang indah dan tetapkanlah iman kepada-Mu dan utusan-Mu di dalam hatinya.</p>
<p>Ya Allah, keluarkan anak kami dari dalam kandungan dengan mudah dan selamat. Berilah kami kekuatan, kesabaran, dan mudahkan kami dalam segala urusan.</p>
<p>Ya Allah, jadikanlah anak kami sebagai seorang yang sehat jasmani-rohani, cerdas, alim, dan berpegang teguh pada syariat-Mu.</p>
<p>Amiin&#8230;</p>
<p>Mudah-mudahan majelis ini akan berlanjut pada pembahasan yang lebih mendalam, kelak, ketika Allah berkenan memberikan pemahaman dan kekuatan bagi saya dan kita semua untuk menuliskannya hingga bisa kembali berbagi dengan Anda. Izinkan saya meminta kepada Anda agar tidak melupakan diri saya yang dha&#8217;if ini dalam doa yang paling rahasia, hingga kita bisa kembali berdiskusi dan berbagi dengan ilmu yang lebih luas, pemahaman yang lebih mendalam, dan pengalaman-pengalaman berharga. Iya, kelak kita akan bicarakan perayaan cinta ini dengan peserta yang lebih banyak lagi: bersama anak-anak kita. Tetapi belum sekarang. Mudah-mudahan tak lama lagi. Insya Allah&#8230;</p>
<p>Semoga tiap katanya tak hanya mengandung ilmu, tapi juga melahirkan dzikir. Semoga tiap kalimatnya tak hanya menambah wawasan, tetapi juga ketaqwaan. Dan semoga dalam segala amal, Allah semakin menambahkan barakah pada keturunan kita, yang kita usahakan melalui ketauladanan Rasulullah Muhammad SAW.﻿</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/menanti-buah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istri Cantik, Suami Tampan?</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/istri-cantik-suami-tampan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/istri-cantik-suami-tampan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 16:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[Setiap saat, kita diajak untuk takjub dan menyibukkan hati serta pikiran dengan kecantikan orang lain, sementara di rumah para istri lupa berhias. Mereka berhias hanya ketika keluar rumah atau ke rumah teman nun jauh di sana. Alhasil, rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau. Akhirnya tak sanggup kita bicara pada istri kita, &#8220;Biarlah engkau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Setiap saat, kita diajak untuk takjub dan menyibukkan hati serta pikiran dengan kecantikan orang lain, sementara di rumah para istri lupa berhias. Mereka berhias hanya ketika keluar rumah atau ke rumah teman nun jauh di sana. Alhasil, rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau. Akhirnya tak sanggup kita bicara pada istri kita, &#8220;Biarlah engkau yang tercantik di hatiku,&#8221;</p></blockquote>
<p>Itulah petikan kalimat yang baru saja saya baca dari sebuah buku karangan Muhammad Fauzil Adhim. Dalam tulisannya, beliau menekankan tentang rentetan masalah yang biasa muncul ketika kita terlalu sibuk dengan keelokan paras orang lain. Inilah yang banyak terjadi saat ini menurutnya.</p>
<p>Sekilas, mungkin petikan kalimat tersebut lebih terkesan &#8220;menegur&#8221; para istri. Dan dalam teks aslinya sendiri, kalimat tersebut memang berada pada paragraf yang membicarakan tentang kebiasaan para istri. Namun, buat saya, kalimat tersebut juga dapat dimaknai sebagai sentilan kepada para suami untuk menjaga pandangan dan hatinya.</p>
<p><span id="more-669"></span>Ah, tidak perlu panjang lebar. Saya cuma ingin berbagi soal petikan kalimat tersebut. Insya Allah bisa menjadi pengingat untuk saya dan juga istri. Suami, orang yang paling berhak melihat eloknya sang istri ketika ia berhias. Istri, juga berhak mendapatkan hal yang sama dari suaminya, seperti sang istri melakukannya untuk suami, karena Allah dan suaminya.</p>
<p>Istri cantik, suami tampan? Wajar lah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/istri-cantik-suami-tampan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Harus Terkatakan&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/yang-harus-terkatakan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/yang-harus-terkatakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 03:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=634</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saya tanya, &#8220;Apakah kamu memiliki suatu tujuan?&#8221; Pasti semua akan menjawab, &#8220;Punya!&#8221; Tapi kalau ditanyakan, &#8220;Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?&#8221; Mungkin jawabannya bisa beragam. Saya punya banyak sekali tujuan, impian, atau mungkin juga khayalan. Saya memang tipe orang yang suka berangan-angan. Eits, tapi angan-angan saya insya Allah bukan angan-angan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau saya tanya, &#8220;Apakah kamu memiliki suatu tujuan?&#8221;</p>
<p>Pasti semua akan menjawab, &#8220;Punya!&#8221;</p>
<p>Tapi kalau ditanyakan, &#8220;Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?&#8221;</p>
<p>Mungkin jawabannya bisa beragam. Saya punya banyak sekali tujuan, impian, atau mungkin juga khayalan. Saya memang tipe orang yang suka berangan-angan. Eits, tapi angan-angan saya insya Allah bukan angan-angan kosong yang bertepuk sebelah tangan.</p>
<p>Alhamdulillah, salah satu angan-angan dan tujuan terbesar dalam hidup saya sudah Allah kabulkan. Tepat tanggal <a href="http://walimah.aditdanniez.com/" target="_blank">10 Muharram 1431 H</a>, angan-angan saya itu terwujud. Kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini, &#8220;Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?&#8221;</p>
<p>Seberapa banyak?</p>
<p>Saya ingat benar ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 2. Niat untuk menikah muda sudah saya simpan dalam memori saya yang menunggu untuk diwujudkan. Setahun kemudian, ketika saya duduk di kelas 3, saya ikrarkan di depan guru-guru saya niat tersebut. Tidak hanya niat yang saya ikrarkan, tapi juga waktu mengenai kapan tepatnya niat itu pasti akan terwujud.</p>
<p><span id="more-634"></span>Nekat? Kepedean? Ah, tidak juga. Waktu itu saya katakan kepada guru-guru saya kalau saya akan menikah sebelum saya lulus kuliah. Saya bertekad untuk menjalani KKN. Kuliah, kerja, nikah. Pada saat itu mungkin saja orang-orang yang mendengar tekad saya tersebut cuma menganggapnya sebagai guyonan. Maklum, terkadang kalimat guyonan saya dengan kalimat serius hanya beda-beda tipis.</p>
<p>Setahun kemudian, ketika masih tahap-tahap awal menginjakkan kaki di dunia perkuliahan, angan-angan tersebut kembali saya asah. Saya katakan ke teman-teman saya kalau saya akan menikah sebelum lulus. Bukannya saya kepedean, tapi sebenarnya saya hendak mencari siapa-siapa yang kira-kira sepaham, semisi, dan memiliki angan-angan yang sama dengan saya. Tapi sepertinya tidak ada.</p>
<p>Mungkin ada yang berpikir mengenai kesiapan saya untuk menikah. Pekerjaan salah satunya. Orang baru lulus SMA kok udah kepingin nikah. Mau ngasih makan apa ke istri nanti? Tapi Alhamdulillah, siapa sangka 3 bulan setelah lulus SMA saya mendapat pekerjaan. Gak jauh-jauh, sekolah saya yang jadi kantor pertama saya sebelum hijrah ke sebuah kantor di daerah Mangga Dua hingga kini.</p>
<p>Saat itu saya langsung dipanggil salah satu wakil direktur yayasan sekolah tempat saya bekerja. Ternyata pihak sekolah merasa tertarik dengan website yang saya buat. Dulu, sewaktu teman-teman saya sibuk dan belajar keras untuk UN SMA, saya malah asik-asik belajar mengembangkan website. Sebagian waktu saya tersita di depan internet dibanding untuk belajar kala itu. Tapi inilah yang menjadi awal mula gerbang terwujudnya cita-cita saya. Setelah mendapat pekerjaan itu, salah seorang guru saya langsung mengatakan, &#8220;Kamu udah boleh menikah sekarang!&#8221;</p>
<p>Maaf, saya sadar cerita ini sudah cukup panjang, bahkan kalau saya terus menggerakkan jari ini untuk bercerita tentu akan semakin panjang dan mungkin bisa saja memunculkan bibit kesombongan di hati ini. Padahal masih banyak hal lain yang ingin saya bicarakan dibanding sekedar bercerita. Singkatnya di akhir cerita, Alhamdulillah angan-angan saya itu akhirnya terwujud sesuai target dengan melalui cukup banyak kesulitan dan kelelahan. Mungkin lebih lengkapnya akan saya ceritakan di kesempatan lain bila berkenan.</p>
<p>Sebenarnya yang ingin saya bicarakan adalah soal tantangan dan fokus. <a href="http://www.dakwatuna.com/2008/thariq-bin-ziyad-sang-penakluk-spanyol/" target="_blank">Thariq bin Ziyad</a> yang mengukirkan namanya di selat dua benua (Jabal Thariq atau Gibraltar), sadar bahwa semakin besar tantangan akan semakin dahsyat pula potensi diri yang tergerakkan. Ia memerintahkan untuk membakar semua kapal ketika mendarat di semenanjung Iberia-Andalusia sebelum membebaskan Andalusia dari jajahan Raja Roderick yang semena-mena.</p>
<p>Thariq bin Ziyad seketika itu menutup celah kekalahan kaum muslimin. Kenapa? Karena hanya tinggal 2 pilihan sekarang: memenangkan pertempuran atau memenangkan bidadari surga. Pilihan ketiga, yaitu pulang dengan kapal sudah dihapus karena ia yakin pilihan ketiga berarti kekalahan.</p>
<p>Apa yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah Thariq? Ya. Kalau ingin sukses besar, perbesar tantangannya! Tak lupa dengan doa juga tentunya. Saya mencoba untuk menerapkan contoh tersebut dalam angan-angan yang sudah saya ceritakan tadi. Dengan mengatakan bahwa saya akan menikah sebelum lulus, berarti kemungkinan untuk menikah setelah lulus, setelah dapat pekerjaan bagus, setelah umur sekian, setelah mapan, dan setelah-setelah yang lainnya sudah saya hapuskan. Dan pasti, potensi diri ini akan tergerakkan untuk memperoleh pilihan yang sebelumnya sudah ditetapkan.</p>
<p>Ada dua hal yang saya katakan ke istri saya (ups, waktu itu masih calon) beberapa bulan sebelum mencoba memantapkan hati untuk berbicara dengan calon mertua. Yang pertama saya katakan adalah keinginan saya untuk menikah di bulan Muharram, di mana saat itu bulan Muharram bertepatan dengan bulan Desember. Kemudian yang kedua, yang pasti akan selalu saya ingat, &#8220;Kalau kita gak bisa menikah sebelum tahun 2010, kita sudahi saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Dengan kata lain, saya harus sudah menikah di bulan Desember tahun 2009!</p>
<p>Lagi-lagi saya mencoba untuk memperbesar taruhan saya. Sedikit nekat memang. Tapi saya akui dengan tantangan yang saya perbesar itu saya semakin menemukan ide-ide kreatif untuk mendukung angan-angan saya. Mental semakin terasah, dan ketetapan hati semakin bulat. Kalau saya tidak bisa menikah dengan calon istri saya waktu itu sesuai target, saya masih bisa mencari calon mertua lain. Alhamdulillah, sukses!</p>
<p>Dan kembali saya ingat, ternyata rangkaian angan ini tidak dimulai ketika saya pertama kali mengikrarkan niat di depan guru-guru saya di SMA. Dialog dengan seorang guru saya, M. Faedhullah namanya, menguatkan keyakinan saya akan pentingnya berangan-angan dan mencari tantangan. Di tengah-tengah pelajaran, saya yang ketika itu duduk di kelas 3 SMP ditanya oleh beliau, &#8220;Kamu mencari istri yang seperti apa nantinya?&#8221;</p>
<p>Ketika itu saya jawab kalau saya mencari yang berjilbab! Bukan hanya sekedar mengenakan jilbab, tapi juga menjaga hijabnya dengan sempurna. Dengan demikian, pilihan untuk mendapatkan istri yang tidak menjaga auratnya sangat-sangat tertutup. Bagaimana hasilnya? Alhamdulillah. Soal hijab ini selalu saya wanti-wanti ke istri saya sejak sebelum menikah dulu sampai sekarang.</p>
<p>Dan sekarang, di antara beberapa angan-angan saya, saya punya satu lagi angan-angan dan tantangan besar yang menunggu untuk diwujudkan. Saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan saya sekarang dan fokus sepenuhnya untuk beralih pada profesi yang dilakoni <a href="http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/siapakah-abdurrahman-bin-auf.htm" target="_blank">Abdurrahman bin &#8216;Auf</a>, bekerja mandiri dan membuka lapangan pekerjaan baru. Kaum muslimin butuh Abdurrahman bin &#8216;Auf lainnya.</p>
<p>Insya Allah suatu hari nanti pasti terwujud. Ya Allah, kabulkanlah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/yang-harus-terkatakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nrimo lan Ora Ngoyo&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 15:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ummu Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=606</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, di negeri antah berantah, seorang menantu dan mertuanya sedang menilik sebuah rumah yang tampaknya baru selesai direnovasi. Rumah mungil dengan taman kecil di dalamnya itu terlihat cukup nyaman untuk sepasang suami istri yang baru setahun lebih menikah. Eh, ini bukan cerita soal kami. Bener&#8230; Ah, rupanya rumah ini adalah pemberian dari sang mertua untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, di negeri antah berantah, seorang menantu dan mertuanya sedang menilik sebuah rumah yang tampaknya baru selesai direnovasi. Rumah mungil dengan taman kecil di dalamnya itu terlihat cukup nyaman untuk sepasang suami istri yang baru setahun lebih menikah. Eh, ini bukan cerita soal kami. Bener&#8230;</p>
<p>Ah, rupanya rumah ini adalah pemberian dari sang mertua untuk anak lelakinya dan menantunya yang dibeli dan kemudian direnovasi sana-sini agar terlihat lebih indah dan nyaman. Kalau dihitung-hitung sepertinya renovasi tersebut telah memakan cukup banyak biaya.</p>
<p>Dan sore itulah saatnya sang menantu dan mertuanya datang menengok rumah tersebut&#8230;</p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Gimana ?? Enak rumahnya ??</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Yaaa&#8230; enak sih, bu.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Tinggal furniturenya insya Allah jadi minggu depan.</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Iyah, bu. Cuma&#8230; Kok buffet lamanya ga jadi dicat sih, bu ?? Katanya mau dicat ?? Kan kalau dicat jadi ga keliyatan kusem kayak gitu&#8230;</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: (sambil sedikit menahan rasa jengkel) Lha kan emang ga dicat. Kalau dicat tu jatuhnya bisa mahal sekali, apalagi mesti pake cat duco. Lagipula ini udah enak kok rumahnya, walaupun pake buffet yang lama.</em></p>
<p><span id="more-606"></span><em><strong>Menantu</strong>: Hoo&#8230; Oiya, bu. Ngomong-ngomong model gordennya yang ini aja deh, bu. Jangan yang kemarin.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Lha, emang kenapa sama yang kemarin ??</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Bagusan yang ini, bu&#8230;.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: &#8230;%$^%#@$^% !!!</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Di belahan bumi yang lain, tampak seorang lelaki renta seorang mengayuh sepeda dengan peluh membasahi pakaiannya. Tak kenal lelah, lelaki itu terus menerjang panasnya terik matahari serta asap kendaraan yang hitam mengepul.</p>
<p>Lelaki tersebut adalah seorang mantan atlet lari kelas manula yang nyaris membawa nama Indonesia ke kancah dunia lewat bidang atletik kelas manula. Banyak medali telah diraihnya, mulai dari tingkat daerah hingga tingkat nasional. Namun sayang, sebuah kecelakaan telah mematahkan kakinya hingga ia gagal mewakili Indonesia di perhelatan internasional.</p>
<p>Saat kondisi kakinya sudah membaik, ia ingin terus berlari. Namun keadaan sudah berubah. Peraturan daerah mengharuskannya merogoh saku sendiri untuk menutupi biaya akomodasi jika ingin terus mengikuti pertandingan di luar kota. Tak ada kata subsidi untuk atlet sepertinya. Hingga jadilah ia saat ini menjadi tukang becak.</p>
<p>Becak bukanlah hal yang asing untuknya, karena memang sebelum lelaki renta ini menggeluti bidang atletik manula, ia adalah seorang tukang becak. Jadi wajar saja kalau dia memiliki stamina yang cukup okeyh untuk orang seusianya.</p>
<p>Kehidupannya ia lalui dengan penuh kesederhanaan. Tak pernah ia mengeluhkan keadaan, hanya berusaha saja yang terus ia lakukan. Pantang menyerah! Berbagai pekerjaan serabutan ia lakoni di waktu senggangnya. Namun tetap saja, itu semua tak mampu menutupi kebutuhan kehidupan yang harganya terus melambung.</p>
<p>Yang paling saya ingat dari lelaki renta ini adalah moto hidupnya: <strong><em>Nrimo lan ora ngoyo&#8230;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dua babak kehidupan yang berbeda telah tergambar sangat jelas di depan mata kita. Yang harus kita lakukan adalah IQRO&#8217;, membaca dan menelaah setiap kejadian di muka bumi ini.</p>
<p>Jadi, sudah tau kan apa yang bisa kita baca dari dua kisah tadi ??  <img src='http://www.aditdanniez.com/wp-content/plugins/smilies-themer/YM/1.gif' alt="Nrimo lan Ora Ngoyo..." class='wp-smiley' title="gambar Nrimo lan Ora Ngoyo..." /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benih&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/benih/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/benih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 03:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, hampir 3 bulan sudah usia pernikahan kami. Suasana walimah yang mungkin sedikit terasa mewah dan syar&#8217;i kala itu masih terasa membekas di kepala dan hati ini. Lega dan sedikit terselip rasa bangga akan bentuk acara pernikahan islami yang kami idamkan terlaksana. Mudah-mudahan ini bukan kesombongan ya Allah&#8230; Tapi jujur, 3 bulan itu merupakan waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, hampir 3 bulan sudah usia pernikahan kami. Suasana walimah yang mungkin sedikit terasa mewah dan syar&#8217;i kala itu masih terasa membekas di kepala dan hati ini. Lega dan sedikit terselip rasa bangga akan bentuk acara pernikahan islami yang kami idamkan terlaksana. Mudah-mudahan ini bukan kesombongan ya Allah&#8230;</p>
<p>Tapi jujur, 3 bulan itu merupakan waktu yang terasa tidak sedikit. Bagi saya, 3 bulan setelah menikah itu terasa lebih lama dibanding 3 bulan sebelum menikah. Belakangan ini sepertinya ada beban baru yang menempel di pundak saya. Ada tanggung jawab baru, dan juga resiko-resiko baru yang setiap saat dapat menyergap. Mungkin kalau kata iklan, &#8220;lebih terasa <em>taste</em> nya,&#8221;</p>
<p>Guru-guru saya pernah mengatakan bahwa pernikahan dan keluarga itu adalah madrasah peradaban di mana ilmu nya tidak akan bisa diraih sebelum langsung menjalani langsung madrasah tersebut. Saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut. <em>Well</em>, mungkin ada benarnya juga kata kebanyakan orang yang bilang kalau segala sesuatu itu butuh perencanaan dan ilmu tentunya, termasuk pernikahan.</p>
<p><span id="more-602"></span>Tapi terkadang, segala perencanaan di atas kertas bisa berubah jauh setelah menyelami samudera kehidupan. Yah, Allah memang Maha Berkehendak. Terkadang, apa yang sudah direncanakan sedikit atau bahkan melenceng jauh dari perkiraan.</p>
<p>Atas dasar seperti di atas, banyak yang berpikir kembali untuk terikat ke dalam sebuah ikatan suci. Biasanya muncul beragam keraguan, menikah atau tidak. Tapi setidaknya bagi saya, hal tersebut justru memunculkan motivasi tersendiri. Buat saya kuncinya cuma satu, yakin dengan Sang Pemilik Makhluk. Biar nanti Allah yang akan membuktikan janji-Nya.</p>
<p>Memang, semua itu tergantung dari niat dan tujuan masing-masing pasangan. Apakah akan merengkuh dunia, ataupun memeluk akhirat, ataupun mengejar keduanya. Semua itu kembali kepada individu masing-masing.</p>
<p>Sempat ada yang bertanya atau mempermasalahkan soal kemapanan dan status pada saya. Dan saya yakin persoalan seperti itu bukan saya saja yang mengalami. Tapi yakin deh, segala sesuatu itu ada fase nya. Dari benih, hingga mekar berbunga. Pertanyaannya adalah, siapkah kita untuk kembali kepada fase benih jika memang sebelumnya telah berada pada kondisi yang telah berbunga di bawah naungan sebuah belaian kasih?</p>
<p>Mungkin selama ini kita menikmatinya mengalir  nyaman, meski sesekali karang keras membentur. Tetapi tak terpikirkah  kita bahwa memprogram hidup akan meningkatkan kualitas diri, dari  terhanyut menjadi berenang, dari tenggelam menjadi menyelam, dan dari  terarus menjadi berlayar?</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><strong>Ya Allah, luruskan niat dan kuatkan <em>azzam</em> bagi siapapun yang dilanda keraguan&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/benih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terlabuhkan</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/terlabuhkan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/terlabuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 03:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adit &#38; Niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Terlabuhkan sudah lelah diri Tersandarkan sudah rindu hati Terima kasih Ya Rabbi atas pernikahan ini Belahan jiwa lelah kunanti Telah kujumpai Telah menjadi bagian diri Syukurpun terucap dari relung hati Doa pun mengalun sepenuh jiwa Dan dua hati menyatu kini Janji telah terucapkan Bersama arungi hari Rindu tuk berbagi doa segera terjalani Rindu tuk berbagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/12/rose.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-554" title="Rose" src="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/12/rose.png" alt="Terlabuhkan" width="240" height="240" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Terlabuhkan sudah lelah diri<br />
Tersandarkan sudah rindu hati<br />
Terima kasih Ya Rabbi atas pernikahan ini<br />
Belahan jiwa lelah kunanti<br />
Telah kujumpai<br />
Telah menjadi bagian diri</p>
<p style="text-align: center;">Syukurpun terucap dari relung hati<br />
Doa pun mengalun sepenuh jiwa<br />
Dan dua hati menyatu kini<br />
Janji telah terucapkan<br />
Bersama arungi hari</p>
<p style="text-align: center;">Rindu tuk berbagi doa segera terjalani<br />
Rindu tuk berbagi asa segera terjalani<br />
Hari-hari menempuh samudera berlayar di jalan-Mu<br />
Ya Allah bimbinglah kami selalu</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #f5f2eb;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>(Seismic &#8211; Terlabuhkan)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/terlabuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic (Feed is rejected)
Page Caching using disk: basic
Database Caching 3/51 queries in 0.049 seconds using disk: basic
Object Caching 899/1000 objects using disk: basic

Served from: www.aditdanniez.com @ 2012-02-04 09:31:31 -->
