<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>
<channel>
	<title>aditdanniez.com</title>
	<atom:link href="http://www.aditdanniez.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aditdanniez.com</link>
	<description>di sini tempat kami berteduh...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Jun 2010 09:44:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Istri Cantik, Suami Tampan?</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/istri-cantik-suami-tampan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/istri-cantik-suami-tampan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 16:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit-nya niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[Setiap saat, kita diajak untuk takjub dan menyibukkan hati serta pikiran dengan kecantikan orang lain, sementara di rumah para istri lupa berhias. Mereka berhias hanya ketika keluar rumah atau ke rumah teman nun jauh di sana. Alhasil, rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau. Akhirnya tak sanggup kita bicara pada istri kita, &#8220;Biarlah engkau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Setiap saat, kita diajak untuk takjub dan menyibukkan hati serta pikiran dengan kecantikan orang lain, sementara di rumah para istri lupa berhias. Mereka berhias hanya ketika keluar rumah atau ke rumah teman nun jauh di sana. Alhasil, rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau. Akhirnya tak sanggup kita bicara pada istri kita, &#8220;Biarlah engkau yang tercantik di hatiku,&#8221;</p></blockquote>
<p>Itulah petikan kalimat yang baru saja saya baca dari sebuah buku karangan Muhammad Fauzil Adhim. Dalam tulisannya, beliau menekankan tentang rentetan masalah yang biasa muncul ketika kita terlalu sibuk dengan keelokan paras orang lain. Inilah yang banyak terjadi saat ini menurutnya.</p>
<p>Sekilas, mungkin petikan kalimat tersebut lebih terkesan &#8220;menegur&#8221; para istri. Dan dalam teks aslinya sendiri, kalimat tersebut memang berada pada paragraf yang membicarakan tentang kebiasaan para istri. Namun, buat saya, kalimat tersebut juga dapat dimaknai sebagai sentilan kepada para suami untuk menjaga pandangan dan hatinya.</p>
<p><span id="more-669"></span>Ah, tidak perlu panjang lebar. Saya cuma ingin berbagi soal petikan kalimat tersebut. Insya Allah bisa menjadi pengingat untuk saya dan juga istri. Suami, orang yang paling berhak melihat eloknya sang istri ketika ia berhias. Istri, juga berhak mendapatkan hal yang sama dari suaminya, seperti sang istri melakukannya untuk suami, karena Allah dan suaminya.</p>
<p>Istri cantik, suami tampan? Wajar lah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/istri-cantik-suami-tampan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Harus Terkatakan&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/yang-harus-terkatakan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/yang-harus-terkatakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 03:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit-nya niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=634</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saya tanya, &#8220;Apakah kamu memiliki suatu tujuan?&#8221; Pasti semua akan menjawab, &#8220;Punya!&#8221; Tapi kalau ditanyakan, &#8220;Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?&#8221; Mungkin jawabannya bisa beragam. Saya punya banyak sekali tujuan, impian, atau mungkin juga khayalan. Saya memang tipe orang yang suka berangan-angan. Eits, tapi angan-angan saya insya Allah bukan angan-angan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau saya tanya, &#8220;Apakah kamu memiliki suatu tujuan?&#8221;</p>
<p>Pasti semua akan menjawab, &#8220;Punya!&#8221;</p>
<p>Tapi kalau ditanyakan, &#8220;Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?&#8221;</p>
<p>Mungkin jawabannya bisa beragam. Saya punya banyak sekali tujuan, impian, atau mungkin juga khayalan. Saya memang tipe orang yang suka berangan-angan. Eits, tapi angan-angan saya insya Allah bukan angan-angan kosong yang bertepuk sebelah tangan.</p>
<p>Alhamdulillah, salah satu angan-angan dan tujuan terbesar dalam hidup saya sudah Allah kabulkan. Tepat tanggal <a href="http://walimah.aditdanniez.com/" target="_blank">10 Muharram 1431 H</a>, angan-angan saya itu terwujud. Kembali kepada pertanyaan di awal tulisan ini, &#8220;Seberapa banyak tantangan yang ingin kamu dapat untuk mencapai tujuanmu?&#8221;</p>
<p>Seberapa banyak?</p>
<p>Saya ingat benar ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 2. Niat untuk menikah muda sudah saya simpan dalam memori saya yang menunggu untuk diwujudkan. Setahun kemudian, ketika saya duduk di kelas 3, saya ikrarkan di depan guru-guru saya niat tersebut. Tidak hanya niat yang saya ikrarkan, tapi juga waktu mengenai kapan tepatnya niat itu pasti akan terwujud.</p>
<p><span id="more-634"></span>Nekat? Kepedean? Ah, tidak juga. Waktu itu saya katakan kepada guru-guru saya kalau saya akan menikah sebelum saya lulus kuliah. Saya bertekad untuk menjalani KKN. Kuliah, kerja, nikah. Pada saat itu mungkin saja orang-orang yang mendengar tekad saya tersebut cuma menganggapnya sebagai guyonan. Maklum, terkadang kalimat guyonan saya dengan kalimat serius hanya beda-beda tipis.</p>
<p>Setahun kemudian, ketika masih tahap-tahap awal menginjakkan kaki di dunia perkuliahan, angan-angan tersebut kembali saya asah. Saya katakan ke teman-teman saya kalau saya akan menikah sebelum lulus. Bukannya saya kepedean, tapi sebenarnya saya hendak mencari siapa-siapa yang kira-kira sepaham, semisi, dan memiliki angan-angan yang sama dengan saya. Tapi sepertinya tidak ada.</p>
<p>Mungkin ada yang berpikir mengenai kesiapan saya untuk menikah. Pekerjaan salah satunya. Orang baru lulus SMA kok udah kepingin nikah. Mau ngasih makan apa ke istri nanti? Tapi Alhamdulillah, siapa sangka 3 bulan setelah lulus SMA saya mendapat pekerjaan. Gak jauh-jauh, sekolah saya yang jadi kantor pertama saya sebelum hijrah ke sebuah kantor di daerah Mangga Dua hingga kini.</p>
<p>Saat itu saya langsung dipanggil salah satu wakil direktur yayasan sekolah tempat saya bekerja. Ternyata pihak sekolah merasa tertarik dengan website yang saya buat. Dulu, sewaktu teman-teman saya sibuk dan belajar keras untuk UN SMA, saya malah asik-asik belajar mengembangkan website. Sebagian waktu saya tersita di depan internet dibanding untuk belajar kala itu. Tapi inilah yang menjadi awal mula gerbang terwujudnya cita-cita saya. Setelah mendapat pekerjaan itu, salah seorang guru saya langsung mengatakan, &#8220;Kamu udah boleh menikah sekarang!&#8221;</p>
<p>Maaf, saya sadar cerita ini sudah cukup panjang, bahkan kalau saya terus menggerakkan jari ini untuk bercerita tentu akan semakin panjang dan mungkin bisa saja memunculkan bibit kesombongan di hati ini. Padahal masih banyak hal lain yang ingin saya bicarakan dibanding sekedar bercerita. Singkatnya di akhir cerita, Alhamdulillah angan-angan saya itu akhirnya terwujud sesuai target dengan melalui cukup banyak kesulitan dan kelelahan. Mungkin lebih lengkapnya akan saya ceritakan di kesempatan lain bila berkenan.</p>
<p>Sebenarnya yang ingin saya bicarakan adalah soal tantangan dan fokus. <a href="http://www.dakwatuna.com/2008/thariq-bin-ziyad-sang-penakluk-spanyol/" target="_blank">Thariq bin Ziyad</a> yang mengukirkan namanya di selat dua benua (Jabal Thariq atau Gibraltar), sadar bahwa semakin besar tantangan akan semakin dahsyat pula potensi diri yang tergerakkan. Ia memerintahkan untuk membakar semua kapal ketika mendarat di semenanjung Iberia-Andalusia sebelum membebaskan Andalusia dari jajahan Raja Roderick yang semena-mena.</p>
<p>Thariq bin Ziyad seketika itu menutup celah kekalahan kaum muslimin. Kenapa? Karena hanya tinggal 2 pilihan sekarang: memenangkan pertempuran atau memenangkan bidadari surga. Pilihan ketiga, yaitu pulang dengan kapal sudah dihapus karena ia yakin pilihan ketiga berarti kekalahan.</p>
<p>Apa yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah Thariq? Ya. Kalau ingin sukses besar, perbesar tantangannya! Tak lupa dengan doa juga tentunya. Saya mencoba untuk menerapkan contoh tersebut dalam angan-angan yang sudah saya ceritakan tadi. Dengan mengatakan bahwa saya akan menikah sebelum lulus, berarti kemungkinan untuk menikah setelah lulus, setelah dapat pekerjaan bagus, setelah umur sekian, setelah mapan, dan setelah-setelah yang lainnya sudah saya hapuskan. Dan pasti, potensi diri ini akan tergerakkan untuk memperoleh pilihan yang sebelumnya sudah ditetapkan.</p>
<p>Ada dua hal yang saya katakan ke istri saya (ups, waktu itu masih calon) beberapa bulan sebelum mencoba memantapkan hati untuk berbicara dengan calon mertua. Yang pertama saya katakan adalah keinginan saya untuk menikah di bulan Muharram, di mana saat itu bulan Muharram bertepatan dengan bulan Desember. Kemudian yang kedua, yang pasti akan selalu saya ingat, &#8220;Kalau kita gak bisa menikah sebelum tahun 2010, kita sudahi saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Dengan kata lain, saya harus sudah menikah di bulan Desember tahun 2009!</p>
<p>Lagi-lagi saya mencoba untuk memperbesar taruhan saya. Sedikit nekat memang. Tapi saya akui dengan tantangan yang saya perbesar itu saya semakin menemukan ide-ide kreatif untuk mendukung angan-angan saya. Mental semakin terasah, dan ketetapan hati semakin bulat. Kalau saya tidak bisa menikah dengan calon istri saya waktu itu sesuai target, saya masih bisa mencari calon mertua lain. Alhamdulillah, sukses!</p>
<p>Dan kembali saya ingat, ternyata rangkaian angan ini tidak dimulai ketika saya pertama kali mengikrarkan niat di depan guru-guru saya di SMA. Dialog dengan seorang guru saya, M. Faedhullah namanya, menguatkan keyakinan saya akan pentingnya berangan-angan dan mencari tantangan. Di tengah-tengah pelajaran, saya yang ketika itu duduk di kelas 3 SMP ditanya oleh beliau, &#8220;Kamu mencari istri yang seperti apa nantinya?&#8221;</p>
<p>Ketika itu saya jawab kalau saya mencari yang berjilbab! Bukan hanya sekedar mengenakan jilbab, tapi juga menjaga hijabnya dengan sempurna. Dengan demikian, pilihan untuk mendapatkan istri yang tidak menjaga auratnya sangat-sangat tertutup. Bagaimana hasilnya? Alhamdulillah. Soal hijab ini selalu saya wanti-wanti ke istri saya sejak sebelum menikah dulu sampai sekarang.</p>
<p>Dan sekarang, di antara beberapa angan-angan saya, saya punya satu lagi angan-angan dan tantangan besar yang menunggu untuk diwujudkan. Saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan saya sekarang dan fokus sepenuhnya untuk beralih pada profesi yang dilakoni <a href="http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/siapakah-abdurrahman-bin-auf.htm" target="_blank">Abdurrahman bin &#8216;Auf</a>, bekerja mandiri dan membuka lapangan pekerjaan baru. Kaum muslimin butuh Abdurrahman bin &#8216;Auf lainnya.</p>
<p>Insya Allah suatu hari nanti pasti terwujud. Ya Allah, kabulkanlah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/yang-harus-terkatakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Cinta untuk Para Tetamu</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/surat-cinta-untuk-para-tetamu/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/surat-cinta-untuk-para-tetamu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 06:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit-nya niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Qalbu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=628</guid>
		<description><![CDATA[Aku ingin menyampaikan pesan ini kepada seluruh tamu yang akan bertamu atau sedang bertamu, di manapun ia berada. Sebagai tamu, sudahkah kita bertamu sesuai dengan adab dan syariat yang diajarkan Rasulullah? Bukankah di dalam rumah terdapat penghuni yang mungkin juga terdapat seorang atau beberapa wanita di dalamnya yang tidak menutup aurat? Ya, rumah seharusnya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku ingin menyampaikan pesan ini kepada seluruh tamu yang akan bertamu atau sedang bertamu, di manapun ia berada.</p>
<p>Sebagai tamu, sudahkah kita bertamu sesuai dengan adab dan syariat yang diajarkan Rasulullah?</p>
<p>Bukankah di dalam rumah terdapat penghuni yang mungkin juga terdapat seorang atau beberapa wanita di dalamnya yang tidak menutup aurat? Ya, rumah seharusnya adalah tempat yang paling aman bagi seorang wanita!</p>
<p>Alangkah indah dan mulia bila para tamu meminta izin di luar pintu rumah terlebih dahulu sebelum masuk ke rumah orang lain, meskipun rumah itu adalah rumah saudaranya sendiri. Berikan kesempatan kepada penghuni rumah untuk menutup aurat-aurat diri dan juga aib rumah.</p>
<p>Mintalah izin kepada para suami, sebagai orang yang paling berhak untuk menentukan siapa-siapa yang berhak masuk ke dalam rumahnya.</p>
<p>Sungguh, Rasulullah dan para sahabat telah memberikan contoh terbaik bagi umat ini dalam segala hal. Demi Allah, dalam segala hal! Maka maukah kamu mengambil pelajaran dari para generasi terbaik umat ini?</p>
<p><span id="more-628"></span>Ada seorang laki-laki di kalangan Anshar yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata  kepadanya, &#8220;Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah,&#8221;</p>
<p>Kemudian, Rasulullah mengundang empat orang, yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah berkata,  &#8220;Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami.  Bilamana engkau ridha, izinkanlah ia. Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.&#8221; Kemudian, Abu Syuaib berkata, &#8220;Aku telah mengizinkannya.&#8221;<br />
(HR Bukhari)</p>
<p>&#8220;Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta ijin dan memberikan salam kepada penghuninya.  Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Dan jika kamu tidak mendapati seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat ijin. Dan jika dikatakan kepadamu : &#8216;Kembalilah!&#8217;; maka hendaklah kamu kembali (pergi). Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,&#8221;<br />
(QS. An-Nuur; 27-28)</p>
<p>Bagaimana dengan cara bertamu Rasulullah sendiri?</p>
<p>Apabila Rasulullah mendatangi rumah seseorang, beliau tidak berdiri di depan pintu. Akan tetapi di samping kanan atau di samping kiri. Kemudian beliau mengucapkan :  &#8220;Assalamu&#8217;alaikum Assalamu&#8217;alaikum&#8221;<br />
(HR Abu Daud)</p>
<p>Ketika kita mengetuk pintu, dianjurkan untuk tidak menghadap ke arah pintu. Adab ini adalah untuk menghindari terlanggarnya kehormatan muslim atau muslimah lainnya dengan melihat sesuatu yang bukan haknya untuk dilihat.</p>
<p>&#8220;Menyingkirlah dari depan pintu, sesungguhnya meminta ijin itu disyari&#8217;atkan untuk menjaga pandangan mata,&#8221;<br />
(HR Abu Daud)</p>
<p>&#8220;Sekiranya ada seseorang yang mengintip (atau memasuki) rumahmu tanpa ijin, lalu engkau melemparnya dengan batu sehingga tercungkil matanya, maka tidak ada dosa atasmu,&#8221;<br />
(HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Itulah adab syar&#8217;i yang mungkin asing di tengah kaum muslimin. Alhamdulillah, selesai sudah kutuliskan sepucuk surat cinta ini. Mungkin ada hal-hal yang terlewat, mudah-mudahan Anda berkenan memperkaya ilmu dengan literatur yang lain. Semoga tiap katanya tak hanya mengandung ilmu, tapi juga melahirkan dzikir. Semoga tiap kalimatnya, tak hanya menambah wawasan, tetapi juga ketaqwaan. Dan semoga dalam segala amal, Allah semakin menambahkan barakah pada jalinan suci rumah tangga kita, yang salah satunya melalui manajemen dakwah rumah kita.</p>
<p>Pertanyaan terakhir, sudahkah kita bertamu selayaknya seorang muslim bertamu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/surat-cinta-untuk-para-tetamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harta Manusia, Manusia Harta</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/harta-manusia-manusia-harta/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/harta-manusia-manusia-harta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 17:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit-nya niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Qalbu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[”Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.&#8221; (QS. Al-Israa&#8217;; 27) Saya kembali teringat salah satu kejadian di pertengahan tahun 2009, di mana sepakbola eropa baru saja menutup bukunya. Pembelian pemain-pemain bintang mewarnai bursa transfer tersebut, seperti biasanya. Dalam bursa tersebut, terjadi rekor transfer terbaru yang dibukukan atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>”Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.&#8221;<br />
(QS. Al-Israa&#8217;; 27)</p></blockquote>
<p>Saya kembali teringat salah satu kejadian di pertengahan tahun 2009, di mana sepakbola eropa baru saja menutup bukunya. Pembelian pemain-pemain bintang mewarnai bursa transfer tersebut, seperti biasanya.</p>
<p>Dalam bursa tersebut, terjadi rekor transfer terbaru yang dibukukan atas nama seorang pemain berkebangsaan Portugal dengan jumlah yang konon kabarnya mencapai 1,3 triliun rupiah. Jujur, sampai sekarang saya masih mencoba untuk mencari prasangka-prasangka positif terhadap apa yang dilakukan seseorang (atau klub) yang memiliki dana melimpah tersebut, namun sayangnya saya masih belum menemukannya.</p>
<p>Tidak ketinggalan juga kabar yang datang dari negeri padang pasir sekitar setahun sebelumnya. Sulaiman Al-Fahim melakukan pembelian sebuah klub sepakbola dari Inggris, Manchester City. Kabarnya, dana yang harus ia keluarkan untuk itu mencapai 2,8 triliun rupiah. Sesaat setelah itu, sang juragan properti tersebut turut meramaikan &#8220;belanja&#8221; musiman seperti yang biasa dilakukan tim-tim kesayangan kita di Eropa nun jauh di sana. Total biayanya? Tentu bisa dipakai untuk membiayai fakir miskin di negeri kita ini.</p>
<p>Saya masih ingat betul ketika tim nasional Saudi Arabia untuk pertama kalinya lolos ke Piala Dunia 1998. Ketika itu seluruh pemain dihadiahkan sebuah mobil mewah atas &#8220;prestasi&#8221; nya tersebut apapun hasil nya nanti, entah itu baik atau buruk. Itu pun belum termasuk bonus fulus yang mengalir bagi setiap gol yang tercipta dari kaki para pemainnya.</p>
<p><span id="more-536"></span>Sejak saat itu, masyarakat di negeri gurun dan sekitarnya tersebut mulai terasuki demam sepakbola. Bila sebelumnya siaran televisi olah raga yang mendominasi masyarakat di sana hanyalah berkutat pada kegiatan olah raga keluarga kerajaan, maka kini layar kaca mereka telah dihiasi dengan siaran sepakbola Eropa dan bagian dunia lainnya. Siaran kegiatan olah raga kerajaan pun dengan legowo harus tersingkir. Dan masyarakat di sana kini punya kesenangan baru, sepakbola.</p>
<p>Hingga pada akhirnya, mulai bermunculan para pangeran dan syeikh dari negeri tersebut yang loyal membelanjakan rezeki nya untuk membeli kesenangan mereka. Terakhir, kabarnya Faisal bin Fahd bin Abdullah dan Ali Al-Faraj pun mengikuti jejak saudara seimannya yang telah lebih dahulu terjun ke dalam sebuah &#8220;lubang kapitalisme&#8221; yang berlindung di bawah dunia sepakbola.</p>
<p>Ah, sepertinya mudah sekali harta digelontorkan hanya untuk membeli sebuah kesenangan sesaat. Padahal, di saat yang sama saudara-saudara tetangganya di <a href="http://warnaislam.com/berita/dunia/2010/4/21/51780/Tank-Tank_Israek_Gempur_Gaza_Tengah_dan_Selatan.htm" target="_blank">Palestina</a> sangat membutuhkan kesejahteraan dan pelita dunia yang kini perlahan mulai meredup, hilang di tengah hingar bingar perputaran uang dan pernik dunia.</p>
<p>Sekarang, demam Piala Dunia mulai kembali berhembus. Musim liga-liga sepakbola dunia pun akan memasuki fase terakhirnya. Apakah negeri kita tercinta ini yang mana masyarakatnya masih banyak didera kemiskinan dan kelaparan akan mulai merintis jejak <a href="http://payjo.wordpress.com/2009/12/11/indonesia-piala-dunia-2022/" target="_blank">serupa</a>? Dan apakah setelah itu gelontoran dana akan kembali membuat dunia tercengang?</p>
<p>Kalau saya lebih baik mulai menabung dari sekarang untuk biaya persalinan istri nanti&#8230;</p>
<p>* Nabung dulu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/harta-manusia-manusia-harta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nrimo lan Ora Ngoyo&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 15:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=606</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, di negeri antah berantah, seorang menantu dan mertuanya sedang menilik sebuah rumah yang tampaknya baru selesai direnovasi. Rumah mungil dengan taman kecil di dalamnya itu terlihat cukup nyaman untuk sepasang suami istri yang baru setahun lebih menikah. Eh, ini bukan cerita soal kami. Bener&#8230; Ah, rupanya rumah ini adalah pemberian dari sang mertua untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, di negeri antah berantah, seorang menantu dan mertuanya sedang menilik sebuah rumah yang tampaknya baru selesai direnovasi. Rumah mungil dengan taman kecil di dalamnya itu terlihat cukup nyaman untuk sepasang suami istri yang baru setahun lebih menikah. Eh, ini bukan cerita soal kami. Bener&#8230;</p>
<p>Ah, rupanya rumah ini adalah pemberian dari sang mertua untuk anak lelakinya dan menantunya yang dibeli dan kemudian direnovasi sana-sini agar terlihat lebih indah dan nyaman. Kalau dihitung-hitung sepertinya renovasi tersebut telah memakan cukup banyak biaya.</p>
<p>Dan sore itulah saatnya sang menantu dan mertuanya datang menengok rumah tersebut&#8230;</p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Gimana ?? Enak rumahnya ??</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Yaaa&#8230; enak sih, bu.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Tinggal furniturenya insya Allah jadi minggu depan.</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Iyah, bu. Cuma&#8230; Kok buffet lamanya ga jadi dicat sih, bu ?? Katanya mau dicat ?? Kan kalau dicat jadi ga keliyatan kusem kayak gitu&#8230;</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: (sambil sedikit menahan rasa jengkel) Lha kan emang ga dicat. Kalau dicat tu jatuhnya bisa mahal sekali, apalagi mesti pake cat duco. Lagipula ini udah enak kok rumahnya, walaupun pake buffet yang lama.</em></p>
<p><span id="more-606"></span><em><strong>Menantu</strong>: Hoo&#8230; Oiya, bu. Ngomong-ngomong model gordennya yang ini aja deh, bu. Jangan yang kemarin.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Lha, emang kenapa sama yang kemarin ??</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Bagusan yang ini, bu&#8230;.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: &#8230;%$^%#@$^% !!!</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Di belahan bumi yang lain, tampak seorang lelaki renta seorang mengayuh sepeda dengan peluh membasahi pakaiannya. Tak kenal lelah, lelaki itu terus menerjang panasnya terik matahari serta asap kendaraan yang hitam mengepul.</p>
<p>Lelaki tersebut adalah seorang mantan atlet lari kelas manula yang nyaris membawa nama Indonesia ke kancah dunia lewat bidang atletik kelas manula. Banyak medali telah diraihnya, mulai dari tingkat daerah hingga tingkat nasional. Namun sayang, sebuah kecelakaan telah mematahkan kakinya hingga ia gagal mewakili Indonesia di perhelatan internasional.</p>
<p>Saat kondisi kakinya sudah membaik, ia ingin terus berlari. Namun keadaan sudah berubah. Peraturan daerah mengharuskannya merogoh saku sendiri untuk menutupi biaya akomodasi jika ingin terus mengikuti pertandingan di luar kota. Tak ada kata subsidi untuk atlet sepertinya. Hingga jadilah ia saat ini menjadi tukang becak.</p>
<p>Becak bukanlah hal yang asing untuknya, karena memang sebelum lelaki renta ini menggeluti bidang atletik manula, ia adalah seorang tukang becak. Jadi wajar saja kalau dia memiliki stamina yang cukup okeyh untuk orang seusianya.</p>
<p>Kehidupannya ia lalui dengan penuh kesederhanaan. Tak pernah ia mengeluhkan keadaan, hanya berusaha saja yang terus ia lakukan. Pantang menyerah! Berbagai pekerjaan serabutan ia lakoni di waktu senggangnya. Namun tetap saja, itu semua tak mampu menutupi kebutuhan kehidupan yang harganya terus melambung.</p>
<p>Yang paling saya ingat dari lelaki renta ini adalah moto hidupnya: <strong><em>Nrimo lan ora ngoyo&#8230;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dua babak kehidupan yang berbeda telah tergambar sangat jelas di depan mata kita. Yang harus kita lakukan adalah IQRO&#8217;, membaca dan menelaah setiap kejadian di muka bumi ini.</p>
<p>Jadi, sudah tau kan apa yang bisa kita baca dari dua kisah tadi ??  <img src='http://www.aditdanniez.com/wp-content/plugins/smilies-themer/YM/1.gif' alt=':)' class='wp-smiley' title="gambar Nrimo lan Ora Ngoyo..." /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benih&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/benih/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/benih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 03:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit-nya niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, hampir 3 bulan sudah usia pernikahan kami. Suasana walimah yang mungkin sedikit terasa mewah dan syar&#8217;i kala itu masih terasa membekas di kepala dan hati ini. Lega dan sedikit terselip rasa bangga akan bentuk acara pernikahan islami yang kami idamkan terlaksana. Mudah-mudahan ini bukan kesombongan ya Allah&#8230; Tapi jujur, 3 bulan itu merupakan waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, hampir 3 bulan sudah usia pernikahan kami. Suasana walimah yang mungkin sedikit terasa mewah dan syar&#8217;i kala itu masih terasa membekas di kepala dan hati ini. Lega dan sedikit terselip rasa bangga akan bentuk acara pernikahan islami yang kami idamkan terlaksana. Mudah-mudahan ini bukan kesombongan ya Allah&#8230;</p>
<p>Tapi jujur, 3 bulan itu merupakan waktu yang terasa tidak sedikit. Bagi saya, 3 bulan setelah menikah itu terasa lebih lama dibanding 3 bulan sebelum menikah. Belakangan ini sepertinya ada beban baru yang menempel di pundak saya. Ada tanggung jawab baru, dan juga resiko-resiko baru yang setiap saat dapat menyergap. Mungkin kalau kata iklan, &#8220;lebih terasa <em>taste</em> nya,&#8221;</p>
<p>Guru-guru saya pernah mengatakan bahwa pernikahan dan keluarga itu adalah madrasah peradaban di mana ilmu nya tidak akan bisa diraih sebelum langsung menjalani langsung madrasah tersebut. Saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut. <em>Well</em>, mungkin ada benarnya juga kata kebanyakan orang yang bilang kalau segala sesuatu itu butuh perencanaan dan ilmu tentunya, termasuk pernikahan.</p>
<p><span id="more-602"></span>Tapi terkadang, segala perencanaan di atas kertas bisa berubah jauh setelah menyelami samudera kehidupan. Yah, Allah memang Maha Berkehendak. Terkadang, apa yang sudah direncanakan sedikit atau bahkan melenceng jauh dari perkiraan.</p>
<p>Atas dasar seperti di atas, banyak yang berpikir kembali untuk terikat ke dalam sebuah ikatan suci. Biasanya muncul beragam keraguan, menikah atau tidak. Tapi setidaknya bagi saya, hal tersebut justru memunculkan motivasi tersendiri. Buat saya kuncinya cuma satu, yakin dengan Sang Pemilik Makhluk. Biar nanti Allah yang akan membuktikan janji-Nya.</p>
<p>Memang, semua itu tergantung dari niat dan tujuan masing-masing pasangan. Apakah akan merengkuh dunia, ataupun memeluk akhirat, ataupun mengejar keduanya. Semua itu kembali kepada individu masing-masing.</p>
<p>Sempat ada yang bertanya atau mempermasalahkan soal kemapanan dan status pada saya. Dan saya yakin persoalan seperti itu bukan saya saja yang mengalami. Tapi yakin deh, segala sesuatu itu ada fase nya. Dari benih, hingga mekar berbunga. Pertanyaannya adalah, siapkah kita untuk kembali kepada fase benih jika memang sebelumnya telah berada pada kondisi yang telah berbunga di bawah naungan sebuah belaian kasih?</p>
<p>Mungkin selama ini kita menikmatinya mengalir  nyaman, meski sesekali karang keras membentur. Tetapi tak terpikirkah  kita bahwa memprogram hidup akan meningkatkan kualitas diri, dari  terhanyut menjadi berenang, dari tenggelam menjadi menyelam, dan dari  terarus menjadi berlayar?</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><strong>Ya Allah, luruskan niat dan kuatkan <em>azzam</em> bagi siapapun yang dilanda keraguan&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/benih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulai dari Diri Sendiri (2)</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/mulai-dari-diri-sendiri-2/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/mulai-dari-diri-sendiri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 16:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Qalbu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Siang hari dalam acara walimah yang dilaksanakan dengan konsep standing-party. Wanita 1: Bu, mbok ya ngantri. Wong yang lain juga ngantri. Wanita 2: Ya sana, panjenengan aja yang ngantri, saya ndak usah. Wanita 1: &#8230; . Malam hari dalam sebuah acara talk-show di stasiun televisi swasta. Presenter: Jadi menurut Anda, bagaimana konsep poligami itu? Narasumber: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Siang hari dalam acara walimah yang dilaksanakan dengan konsep standing-party.</em></p>
<p><strong>Wanita 1</strong>: Bu, mbok ya ngantri. Wong yang lain juga ngantri.</p>
<p><strong>Wanita 2</strong>: Ya sana, panjenengan aja yang ngantri, saya ndak usah.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Wanita 1</strong>: &#8230;</p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><em>Malam hari dalam sebuah acara talk-show di stasiun televisi swasta.</em></p>
<p><strong>Presenter</strong>: Jadi menurut Anda, bagaimana konsep <a title="Satu, Dua, Tiga, atau Empat" href="http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/satu-dua-tiga-atau-empat/" target="_blank">poligami</a> itu?</p>
<p><strong>Narasumber</strong>: Aturan poligami itu memang sudah jelas tertera di dalam Al-Qur&#8217;an. Bla bla bla&#8230; Kalau saya sih setuju saja, asal bukan suami saya.</p>
<p><strong>Penonton (saya)</strong>: &#8230;</p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span id="more-530"></span><br />
<em>Siang hari di sebuah tempat penjahit wanita, salah satu pekerjanya membawa anaknya ke tempat kerja.</em></p>
<p><strong>Anak</strong>: Bu, ayo cepetan bukain botolnya!</p>
<p><strong>Ibu</strong>: Iya, ini lagi mau dibuka.</p>
<p><strong>Anak</strong>: <em>(sedikit berteriak)</em> Cepet, bu!</p>
<p><strong>Ibu</strong>: Iya iya&#8230; <em>(sambil memutar tutup botol dengan sekuat tenaga)</em></p>
<p><strong>Anak</strong>: <em>(berteriak kencang)</em> Ayo, bu! Cepetan!</p>
<p><strong>Ibu</strong>: KAMU TU LHO! MBOK YA <strong>SABAR</strong>!!! <em>(sambil memukul mulut si anak)</em></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Ah, terkadang bercermin itu perlu ya. Dan sepertinya memang harus <a title="Mulai dari Diri Sendiri" href="http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/" target="_blank">mulai dari diri sendri</a>.</p>
<p style="text-align: center;"><span id="zoomed-in" class="shadow" style="background-image: none ! important;"> </span></p>
<p><em><span style="color: #999999;">*mulai bercermin</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/mulai-dari-diri-sendiri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terlabuhkan</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/terlabuhkan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/terlabuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 03:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit &#38; niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Terlabuhkan sudah lelah diri Tersandarkan sudah rindu hati Terima kasih Ya Rabbi atas pernikahan ini Belahan jiwa lelah kunanti Telah kujumpai Telah menjadi bagian diri Syukurpun terucap dari relung hati Doa pun mengalun sepenuh jiwa Dan dua hati menyatu kini Janji telah terucapkan Bersama arungi hari Rindu tuk berbagi doa segera terjalani Rindu tuk berbagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/12/rose.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-554" title="Rose" src="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/12/rose.png" alt="Walimah Adit dan Niez" width="240" height="240" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Terlabuhkan sudah lelah diri<br />
Tersandarkan sudah rindu hati<br />
Terima kasih Ya Rabbi atas pernikahan ini<br />
Belahan jiwa lelah kunanti<br />
Telah kujumpai<br />
Telah menjadi bagian diri</p>
<p style="text-align: center;">Syukurpun terucap dari relung hati<br />
Doa pun mengalun sepenuh jiwa<br />
Dan dua hati menyatu kini<br />
Janji telah terucapkan<br />
Bersama arungi hari</p>
<p style="text-align: center;">Rindu tuk berbagi doa segera terjalani<br />
Rindu tuk berbagi asa segera terjalani<br />
Hari-hari menempuh samudera berlayar di jalan-Mu<br />
Ya Allah bimbinglah kami selalu</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #f5f2eb;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>(Seismic &#8211; Terlabuhkan)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/terlabuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setengah Agama</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-tamu/setengah-agama/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-tamu/setengah-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 07:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adit &#38; niez</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Tamu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah ar-Rahman ar-Rahim Assalamu&#8217;alaikum warrahmatullahi wabarakatuh Dengan mengucap rasa syukur kepada Allah SWT, kami berdua ingin mengumumkan rencana pernikahan kami: Praditya Kasworo &#38; Annisaa Utaminingtyas yang insya Allah akan dilaksanakan pada: Hari      : Ahad, 10 Muharram 1431 H Lokasi   : Semarang, Jawa Tengah Kepada seluruh rekan-rekan kami memohon maaf atas segala salah dan khilaf. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><span style="font-family: Verdana;">Bismillah ar-Rahman ar-Rahim<br />
Assalamu&#8217;alaikum warrahmatullahi wabarakatuh</span></span></p>
<p>Dengan mengucap rasa syukur kepada Allah SWT, kami berdua ingin mengumumkan rencana pernikahan kami:</p>
<p><strong>Praditya Kasworo &amp; Annisaa Utaminingtyas </strong></p>
<p>yang insya Allah akan dilaksanakan pada:</p>
<p><span><span style="font-family: Verdana;"> Hari      : Ahad, 10 Muharram 1431 H<br />
Lokasi   : Semarang, Jawa Tengah</span></span></p>
<p>Kepada seluruh rekan-rekan kami memohon maaf atas segala salah dan khilaf. Tak lupa kami memohon doa kepada saudara-saudara seperjuangan sebagai pengiring langkah kami memasuki kehidupan yang baru.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum <span><span style="font-family: Verdana;">warrahmatullahi wabarakatuh</span></span></p>
<p><small>Selengkapnya:</small><br />
<a title="Walimah Adit dan Niez" href="http://walimah.aditdanniez.com/" target="_blank">http://walimah.aditdanniez.com</a></p>
<p><small><strong>* Maaf, kuota terbatas, tidak dimaksudkan sebagai undangan online&#8230;</strong><br />
</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-tamu/setengah-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulai dari Diri Sendiri</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 09:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Qalbu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=399</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini Jakarta macet sekali. Ribuan mobil, motor, bus, angkot, bahkan pedagang kaki lima bergumul dalam asap knalpot di satu ruas jalan. Dengan kecepatan yang sangad lambat, pengguna-pengguna jalan ini saling berdesakan dan menyerobot jalan. Teriak makian dan bunyi klakson pun mewarnai atau mungkin memperkeruh suasana jalan yang memang sudah keruh. Walaupun pemerintah sudah memperlebar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-408" title="macet" src="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/02/macet.gif" alt="Mulai dari Diri Sendiri" width="208" height="180" />Pagi ini Jakarta macet sekali. Ribuan mobil, motor, bus, angkot, bahkan pedagang kaki lima bergumul dalam asap knalpot di satu ruas jalan. Dengan kecepatan yang sangad lambat, pengguna-pengguna jalan ini saling berdesakan dan menyerobot jalan. Teriak makian dan bunyi klakson pun mewarnai atau mungkin memperkeruh suasana jalan yang memang sudah keruh.</p>
<p>Walaupun pemerintah sudah memperlebar jalan serta membangun <em>fly-over</em> dan <em>underpass</em>, namun hal ini ternyata tidak mengubah kemacetan yang terjadi karena pembangunan tersebut tetap tidak sebanding dengan pertambahan banyaknya kendaraan di Jakarta. Belum lagi sopir angkot yang kerap ngetem di pertigaan dan perempatan jalan sehingga menghambat pengguna jalan yang berada di belakangnya. Kemudian pedagang kaki lima yang dengan santainya berjualan di badan-badan jalan tanpa mempedulikan bahwa tindakan mereka ini semakin menghambat laju kendaraan di jalan.</p>
<p><span id="more-399"></span>Dan masih banyak lagi penyebab kemacetan yang ternyata lebih berkonotasi pada &#8216;mereka&#8217;. Apakah memang semuanya &#8216;mereka&#8217; yang salah ?? Bagaimana dengan &#8216;kita&#8217; sebagai pengguna jalan ?? Kita dengan santainya main serobot jalan tanpa mempedulikan pengguna jalan yang lain. Kita dengan egoisnya menyeberang jalan di sembarang tempat tanpa pernah memikirkan efek dari tindakan kita. Kita dengan sesuka hati menunggu angkot di perempatan dan pertigaan jalan sehingga menarik minat para sopir angkot untuk ngetem di sana. Kita dengan bangganya membeli jajanan dari pedagang kaki lima di pinggir jalan tanpa harus repot-repot turun dari mobil dengan alasan &#8216;malas&#8217;, tanpa menggubris teriakan pengguna jalan di belakang kita yang lajunya terhambat oleh mobil kita.</p>
<p>Kurang lebih begitulah yang dipaparkan oleh <a title="Azimah Rahayu" href="http://azimahr.multiply.com/" target="_blank"><em>Azimah Rahayu</em></a> pada salah satu bab dalam buku <em>&#8216;<a title="Karena Aku Begitu Cantik" href="http://www.sygmacorp.com/index.php?page=shop.product_details&amp;category_id=6&amp;flypage=flypage_new.tpl&amp;product_id=67&amp;option=com_virtuemart&amp;Itemid=26" target="_blank">Karena Aku Begitu Cantik</a>&#8216;</em>. Yak, saat ini kita kerap berpendapat bahwa kemacetan lebih disebabkan oleh orang lain, padahal ternyata kemacetan itu timbul akibat ulah kita sendiri. Kita terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain, tanpa mau mengakui kesalahan diri kita yang ikut andil dalam membentuk sebuah suasana nyata yang biasanya buruk. Seperti sebuah peribahasa yang menyatakan: <em>Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak</em>.</p>
<blockquote><p><strong>Padahal kalau kita mau berpikir lebih dalam lagi, akan lebih mudah bagi kita untuk membuat suasana yang ada menjadi jauh lebih baik dengan cara memperbaiki diri ketimbang harus mengumpat dan mengubah orang lain.</strong></p></blockquote>
<p>Sama seperti kita yang suka menyalahkan pemerintah dalam penanganan banjir di Indonesia, padahal kita masih suka membuang sampah di saluran pembuangan dan membangun gedung-gedung di daerah resapan. Uhuhuuu&#8230;</p>
<p>Dalam sebuah episode Nanny 911, seorang bapak sibuk menyalahkan kenakalan anak lelakinya dan berusaha keras ingin mengubah perilaku anaknya itu. Usut punya usut, ternyata si Nanny berhasil menemukan bahwa kenakalan anak itu disebabkan oleh perbuatan bapaknya sendiri yang terlalu memanjakan si anak. Si Bapak yang keras kepala tetap tidak mau mengakui bahwa kesalahan ada padanya, hingga akhirnya si Nanny berhasil menyadarkan si Bapak. Setelah si Bapak mengevaluasi diri, akhirnya anaknya yang bandel itu pun menjadi lebih mudah dikontrol.</p>
<p>Kadang kita begitu sering menyalahkan orang lain atas suatu keadaan yang menimpa kita. Padahal kalau kita mau menyadari kesalahan kita dan berusaha untuk mengevaluasi diri serta melembutkan hati, alangkah jauh lebih baik untuk kita dapat menerima atau bahkan mengubah keadaan tersebut.</p>
<p>Seperti seseorang yang pernah bercerita begini kepada saya, &#8220;Ada beberapa hal yang sampe saat ini ga bisa aku terima, salah satunya adalah masa laluku. Aku sering menyalahkan masa laluku yang kemudian membentuk pribadiku jadi kayak gini. Kenapa sih dulu aku begini dan begitu ?! Hal ini sering banget mengusik pikiranku. Aku masih ga bisa menerima masa laluku ituh.&#8221;</p>
<p>Memang kadang kita sering menyesal bahkan mengutuk keadaan kita di masa lalu. Padahal kita tahu pasti bahwa kita tidak akan pernah bisa mengubahnya. Bukankah dengan kita memaki-maki masa lalu, cuma akan membuang sia-sia energi kita ?? Yang bisa kita lakukan saat ini adalah evaluasi diri, memperbaiki diri, dan berusaha agar kejadian di masa lalu itu tidak terulang di saat ini dan masa depan.</p>
<p>Pernah dalam suatu kajian, ustadz saya berkata begini, &#8220;<em>Jika kejadian buruk menimpa kita, itu bisa merupakan ujian atau bahkan hukuman dari Allah. Kalau kita sering melakukan dosa, maka itu bisa jadi hukuman, dan kita mesti bertobat. Kalau kita merasa tidak pernah melakukan suatu kesalahan, maka itu bisa jadi sebuah ujian untuk kita. Nah masalahnya, kalau kita merasa suci, justru itulah kesalahan kita.&#8221;</em></p>
<p>Seperti ketika orang tua yang dihadapkan pada seorang anak yang berwatak keras dan pemarah. Pada saat itu Allah bisa jadi sedang menguji kesabaran orang tuanya. Dalam keadaan tersebut hanya kesabaran orang tualah yang bisa membuat keadaan menjadi lebih baik. Hati orang tua akan lebih tenang karena tetap bersabar. Dengan demikian insya Allah akan turut mengetuk hati si anak agar berlaku lebih lembut dan sabar.</p>
<p>Beberapa waktu lalu Aa&#8217; Gym juga berkata begini, &#8220;<em>Kita tidak usah terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain yang kita harus mengubahnya. Kewajiban kita hanya mengingatkan, kalau memang tidak ada perubahan maka sudah gugurlah kewajiban kita itu. Maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah tobat. Karena kalau kita senantiasa mengevaluasi diri, maka insya Allah, Allah akan menolong kita. Jadi, tobat adalah salah satu kunci untuk bisa ridha pada suatu kenyataan.&#8221;</em></p>
<p>Dalam Al-Qur&#8217;an juga telah disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 155:</p>
<p><em>&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang <strong>sabar.</strong>&#8220;</em></p>
<p>Jadi, kalau sesuatu yang buruk menimpa kita, siyapa yang salah ?? Siyapa yang harus memperbaiki diri dahulu ??</p>
<p>Klo kata Aa&#8217; Gym:</p>
<blockquote><p><strong>Mulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang !!</strong></p></blockquote>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #c0c0c0;"><em>Gambar di atas dipinjam dari <a href="http://kampungwacana.wordpress.com/" target="_blank">sini</a>.</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
