<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>
<channel>
	<title>aditdanniez.com &#187; niez-nya adit</title>
	<atom:link href="http://www.aditdanniez.com/author/nieznyaadit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aditdanniez.com</link>
	<description>di sini tempat kami berteduh...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Jun 2010 09:44:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Nrimo lan Ora Ngoyo&#8230;</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 15:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=606</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, di negeri antah berantah, seorang menantu dan mertuanya sedang menilik sebuah rumah yang tampaknya baru selesai direnovasi. Rumah mungil dengan taman kecil di dalamnya itu terlihat cukup nyaman untuk sepasang suami istri yang baru setahun lebih menikah. Eh, ini bukan cerita soal kami. Bener&#8230; Ah, rupanya rumah ini adalah pemberian dari sang mertua untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, di negeri antah berantah, seorang menantu dan mertuanya sedang menilik sebuah rumah yang tampaknya baru selesai direnovasi. Rumah mungil dengan taman kecil di dalamnya itu terlihat cukup nyaman untuk sepasang suami istri yang baru setahun lebih menikah. Eh, ini bukan cerita soal kami. Bener&#8230;</p>
<p>Ah, rupanya rumah ini adalah pemberian dari sang mertua untuk anak lelakinya dan menantunya yang dibeli dan kemudian direnovasi sana-sini agar terlihat lebih indah dan nyaman. Kalau dihitung-hitung sepertinya renovasi tersebut telah memakan cukup banyak biaya.</p>
<p>Dan sore itulah saatnya sang menantu dan mertuanya datang menengok rumah tersebut&#8230;</p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Gimana ?? Enak rumahnya ??</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Yaaa&#8230; enak sih, bu.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Tinggal furniturenya insya Allah jadi minggu depan.</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Iyah, bu. Cuma&#8230; Kok buffet lamanya ga jadi dicat sih, bu ?? Katanya mau dicat ?? Kan kalau dicat jadi ga keliyatan kusem kayak gitu&#8230;</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: (sambil sedikit menahan rasa jengkel) Lha kan emang ga dicat. Kalau dicat tu jatuhnya bisa mahal sekali, apalagi mesti pake cat duco. Lagipula ini udah enak kok rumahnya, walaupun pake buffet yang lama.</em></p>
<p><span id="more-606"></span><em><strong>Menantu</strong>: Hoo&#8230; Oiya, bu. Ngomong-ngomong model gordennya yang ini aja deh, bu. Jangan yang kemarin.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: Lha, emang kenapa sama yang kemarin ??</em></p>
<p><em><strong>Menantu</strong>: Bagusan yang ini, bu&#8230;.</em></p>
<p><em><strong>Mertua</strong>: &#8230;%$^%#@$^% !!!</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Di belahan bumi yang lain, tampak seorang lelaki renta seorang mengayuh sepeda dengan peluh membasahi pakaiannya. Tak kenal lelah, lelaki itu terus menerjang panasnya terik matahari serta asap kendaraan yang hitam mengepul.</p>
<p>Lelaki tersebut adalah seorang mantan atlet lari kelas manula yang nyaris membawa nama Indonesia ke kancah dunia lewat bidang atletik kelas manula. Banyak medali telah diraihnya, mulai dari tingkat daerah hingga tingkat nasional. Namun sayang, sebuah kecelakaan telah mematahkan kakinya hingga ia gagal mewakili Indonesia di perhelatan internasional.</p>
<p>Saat kondisi kakinya sudah membaik, ia ingin terus berlari. Namun keadaan sudah berubah. Peraturan daerah mengharuskannya merogoh saku sendiri untuk menutupi biaya akomodasi jika ingin terus mengikuti pertandingan di luar kota. Tak ada kata subsidi untuk atlet sepertinya. Hingga jadilah ia saat ini menjadi tukang becak.</p>
<p>Becak bukanlah hal yang asing untuknya, karena memang sebelum lelaki renta ini menggeluti bidang atletik manula, ia adalah seorang tukang becak. Jadi wajar saja kalau dia memiliki stamina yang cukup okeyh untuk orang seusianya.</p>
<p>Kehidupannya ia lalui dengan penuh kesederhanaan. Tak pernah ia mengeluhkan keadaan, hanya berusaha saja yang terus ia lakukan. Pantang menyerah! Berbagai pekerjaan serabutan ia lakoni di waktu senggangnya. Namun tetap saja, itu semua tak mampu menutupi kebutuhan kehidupan yang harganya terus melambung.</p>
<p>Yang paling saya ingat dari lelaki renta ini adalah moto hidupnya: <strong><em>Nrimo lan ora ngoyo&#8230;</em></strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dua babak kehidupan yang berbeda telah tergambar sangat jelas di depan mata kita. Yang harus kita lakukan adalah IQRO&#8217;, membaca dan menelaah setiap kejadian di muka bumi ini.</p>
<p>Jadi, sudah tau kan apa yang bisa kita baca dari dua kisah tadi ??  <img src='http://www.aditdanniez.com/wp-content/plugins/smilies-themer/YM/1.gif' alt=':)' class='wp-smiley' title="gambar Nrimo lan Ora Ngoyo..." /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/nrimo-lan-ora-ngoyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulai dari Diri Sendiri (2)</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/mulai-dari-diri-sendiri-2/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/mulai-dari-diri-sendiri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 16:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Qalbu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Siang hari dalam acara walimah yang dilaksanakan dengan konsep standing-party. Wanita 1: Bu, mbok ya ngantri. Wong yang lain juga ngantri. Wanita 2: Ya sana, panjenengan aja yang ngantri, saya ndak usah. Wanita 1: &#8230; . Malam hari dalam sebuah acara talk-show di stasiun televisi swasta. Presenter: Jadi menurut Anda, bagaimana konsep poligami itu? Narasumber: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Siang hari dalam acara walimah yang dilaksanakan dengan konsep standing-party.</em></p>
<p><strong>Wanita 1</strong>: Bu, mbok ya ngantri. Wong yang lain juga ngantri.</p>
<p><strong>Wanita 2</strong>: Ya sana, panjenengan aja yang ngantri, saya ndak usah.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Wanita 1</strong>: &#8230;</p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><em>Malam hari dalam sebuah acara talk-show di stasiun televisi swasta.</em></p>
<p><strong>Presenter</strong>: Jadi menurut Anda, bagaimana konsep <a title="Satu, Dua, Tiga, atau Empat" href="http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/satu-dua-tiga-atau-empat/" target="_blank">poligami</a> itu?</p>
<p><strong>Narasumber</strong>: Aturan poligami itu memang sudah jelas tertera di dalam Al-Qur&#8217;an. Bla bla bla&#8230; Kalau saya sih setuju saja, asal bukan suami saya.</p>
<p><strong>Penonton (saya)</strong>: &#8230;</p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span id="more-530"></span><br />
<em>Siang hari di sebuah tempat penjahit wanita, salah satu pekerjanya membawa anaknya ke tempat kerja.</em></p>
<p><strong>Anak</strong>: Bu, ayo cepetan bukain botolnya!</p>
<p><strong>Ibu</strong>: Iya, ini lagi mau dibuka.</p>
<p><strong>Anak</strong>: <em>(sedikit berteriak)</em> Cepet, bu!</p>
<p><strong>Ibu</strong>: Iya iya&#8230; <em>(sambil memutar tutup botol dengan sekuat tenaga)</em></p>
<p><strong>Anak</strong>: <em>(berteriak kencang)</em> Ayo, bu! Cepetan!</p>
<p><strong>Ibu</strong>: KAMU TU LHO! MBOK YA <strong>SABAR</strong>!!! <em>(sambil memukul mulut si anak)</em></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Ah, terkadang bercermin itu perlu ya. Dan sepertinya memang harus <a title="Mulai dari Diri Sendiri" href="http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/" target="_blank">mulai dari diri sendri</a>.</p>
<p style="text-align: center;"><span id="zoomed-in" class="shadow" style="background-image: none ! important;"> </span></p>
<p><em><span style="color: #999999;">*mulai bercermin</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/mulai-dari-diri-sendiri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulai dari Diri Sendiri</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 09:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Qalbu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=399</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini Jakarta macet sekali. Ribuan mobil, motor, bus, angkot, bahkan pedagang kaki lima bergumul dalam asap knalpot di satu ruas jalan. Dengan kecepatan yang sangad lambat, pengguna-pengguna jalan ini saling berdesakan dan menyerobot jalan. Teriak makian dan bunyi klakson pun mewarnai atau mungkin memperkeruh suasana jalan yang memang sudah keruh. Walaupun pemerintah sudah memperlebar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-408" title="macet" src="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2009/02/macet.gif" alt="Mulai dari Diri Sendiri" width="208" height="180" />Pagi ini Jakarta macet sekali. Ribuan mobil, motor, bus, angkot, bahkan pedagang kaki lima bergumul dalam asap knalpot di satu ruas jalan. Dengan kecepatan yang sangad lambat, pengguna-pengguna jalan ini saling berdesakan dan menyerobot jalan. Teriak makian dan bunyi klakson pun mewarnai atau mungkin memperkeruh suasana jalan yang memang sudah keruh.</p>
<p>Walaupun pemerintah sudah memperlebar jalan serta membangun <em>fly-over</em> dan <em>underpass</em>, namun hal ini ternyata tidak mengubah kemacetan yang terjadi karena pembangunan tersebut tetap tidak sebanding dengan pertambahan banyaknya kendaraan di Jakarta. Belum lagi sopir angkot yang kerap ngetem di pertigaan dan perempatan jalan sehingga menghambat pengguna jalan yang berada di belakangnya. Kemudian pedagang kaki lima yang dengan santainya berjualan di badan-badan jalan tanpa mempedulikan bahwa tindakan mereka ini semakin menghambat laju kendaraan di jalan.</p>
<p><span id="more-399"></span>Dan masih banyak lagi penyebab kemacetan yang ternyata lebih berkonotasi pada &#8216;mereka&#8217;. Apakah memang semuanya &#8216;mereka&#8217; yang salah ?? Bagaimana dengan &#8216;kita&#8217; sebagai pengguna jalan ?? Kita dengan santainya main serobot jalan tanpa mempedulikan pengguna jalan yang lain. Kita dengan egoisnya menyeberang jalan di sembarang tempat tanpa pernah memikirkan efek dari tindakan kita. Kita dengan sesuka hati menunggu angkot di perempatan dan pertigaan jalan sehingga menarik minat para sopir angkot untuk ngetem di sana. Kita dengan bangganya membeli jajanan dari pedagang kaki lima di pinggir jalan tanpa harus repot-repot turun dari mobil dengan alasan &#8216;malas&#8217;, tanpa menggubris teriakan pengguna jalan di belakang kita yang lajunya terhambat oleh mobil kita.</p>
<p>Kurang lebih begitulah yang dipaparkan oleh <a title="Azimah Rahayu" href="http://azimahr.multiply.com/" target="_blank"><em>Azimah Rahayu</em></a> pada salah satu bab dalam buku <em>&#8216;<a title="Karena Aku Begitu Cantik" href="http://www.sygmacorp.com/index.php?page=shop.product_details&amp;category_id=6&amp;flypage=flypage_new.tpl&amp;product_id=67&amp;option=com_virtuemart&amp;Itemid=26" target="_blank">Karena Aku Begitu Cantik</a>&#8216;</em>. Yak, saat ini kita kerap berpendapat bahwa kemacetan lebih disebabkan oleh orang lain, padahal ternyata kemacetan itu timbul akibat ulah kita sendiri. Kita terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain, tanpa mau mengakui kesalahan diri kita yang ikut andil dalam membentuk sebuah suasana nyata yang biasanya buruk. Seperti sebuah peribahasa yang menyatakan: <em>Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak</em>.</p>
<blockquote><p><strong>Padahal kalau kita mau berpikir lebih dalam lagi, akan lebih mudah bagi kita untuk membuat suasana yang ada menjadi jauh lebih baik dengan cara memperbaiki diri ketimbang harus mengumpat dan mengubah orang lain.</strong></p></blockquote>
<p>Sama seperti kita yang suka menyalahkan pemerintah dalam penanganan banjir di Indonesia, padahal kita masih suka membuang sampah di saluran pembuangan dan membangun gedung-gedung di daerah resapan. Uhuhuuu&#8230;</p>
<p>Dalam sebuah episode Nanny 911, seorang bapak sibuk menyalahkan kenakalan anak lelakinya dan berusaha keras ingin mengubah perilaku anaknya itu. Usut punya usut, ternyata si Nanny berhasil menemukan bahwa kenakalan anak itu disebabkan oleh perbuatan bapaknya sendiri yang terlalu memanjakan si anak. Si Bapak yang keras kepala tetap tidak mau mengakui bahwa kesalahan ada padanya, hingga akhirnya si Nanny berhasil menyadarkan si Bapak. Setelah si Bapak mengevaluasi diri, akhirnya anaknya yang bandel itu pun menjadi lebih mudah dikontrol.</p>
<p>Kadang kita begitu sering menyalahkan orang lain atas suatu keadaan yang menimpa kita. Padahal kalau kita mau menyadari kesalahan kita dan berusaha untuk mengevaluasi diri serta melembutkan hati, alangkah jauh lebih baik untuk kita dapat menerima atau bahkan mengubah keadaan tersebut.</p>
<p>Seperti seseorang yang pernah bercerita begini kepada saya, &#8220;Ada beberapa hal yang sampe saat ini ga bisa aku terima, salah satunya adalah masa laluku. Aku sering menyalahkan masa laluku yang kemudian membentuk pribadiku jadi kayak gini. Kenapa sih dulu aku begini dan begitu ?! Hal ini sering banget mengusik pikiranku. Aku masih ga bisa menerima masa laluku ituh.&#8221;</p>
<p>Memang kadang kita sering menyesal bahkan mengutuk keadaan kita di masa lalu. Padahal kita tahu pasti bahwa kita tidak akan pernah bisa mengubahnya. Bukankah dengan kita memaki-maki masa lalu, cuma akan membuang sia-sia energi kita ?? Yang bisa kita lakukan saat ini adalah evaluasi diri, memperbaiki diri, dan berusaha agar kejadian di masa lalu itu tidak terulang di saat ini dan masa depan.</p>
<p>Pernah dalam suatu kajian, ustadz saya berkata begini, &#8220;<em>Jika kejadian buruk menimpa kita, itu bisa merupakan ujian atau bahkan hukuman dari Allah. Kalau kita sering melakukan dosa, maka itu bisa jadi hukuman, dan kita mesti bertobat. Kalau kita merasa tidak pernah melakukan suatu kesalahan, maka itu bisa jadi sebuah ujian untuk kita. Nah masalahnya, kalau kita merasa suci, justru itulah kesalahan kita.&#8221;</em></p>
<p>Seperti ketika orang tua yang dihadapkan pada seorang anak yang berwatak keras dan pemarah. Pada saat itu Allah bisa jadi sedang menguji kesabaran orang tuanya. Dalam keadaan tersebut hanya kesabaran orang tualah yang bisa membuat keadaan menjadi lebih baik. Hati orang tua akan lebih tenang karena tetap bersabar. Dengan demikian insya Allah akan turut mengetuk hati si anak agar berlaku lebih lembut dan sabar.</p>
<p>Beberapa waktu lalu Aa&#8217; Gym juga berkata begini, &#8220;<em>Kita tidak usah terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain yang kita harus mengubahnya. Kewajiban kita hanya mengingatkan, kalau memang tidak ada perubahan maka sudah gugurlah kewajiban kita itu. Maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah tobat. Karena kalau kita senantiasa mengevaluasi diri, maka insya Allah, Allah akan menolong kita. Jadi, tobat adalah salah satu kunci untuk bisa ridha pada suatu kenyataan.&#8221;</em></p>
<p>Dalam Al-Qur&#8217;an juga telah disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 155:</p>
<p><em>&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang <strong>sabar.</strong>&#8220;</em></p>
<p>Jadi, kalau sesuatu yang buruk menimpa kita, siyapa yang salah ?? Siyapa yang harus memperbaiki diri dahulu ??</p>
<p>Klo kata Aa&#8217; Gym:</p>
<blockquote><p><strong>Mulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang !!</strong></p></blockquote>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #c0c0c0;"><em>Gambar di atas dipinjam dari <a href="http://kampungwacana.wordpress.com/" target="_blank">sini</a>.</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-keluarga/mulai-dari-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masihkah Kita Jujur ??</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/masihkah-kita-jujur/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/masihkah-kita-jujur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 07:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Qalbu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Masihkah kita jujur ?? Kalau tanpa kejujuran, kita justru akan meraup lebih banyak harta (yang malah akan menjerumuskan kita ?!) Masihkah kita jujur ?? Kalau tanpa kejujuran, kita justru bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi (di mata manusia ?!) Masihkah kita jujur ?? Kalau tanpa kejujuran, kita justru akan meraih jabatan yang lebih tinggi (atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Masihkah kita jujur ??</strong><br />
Kalau tanpa kejujuran,<br />
kita justru akan meraup lebih banyak harta (yang malah akan menjerumuskan kita ?!)</p>
<p><strong>Masihkah kita jujur ??</strong><br />
Kalau tanpa kejujuran,<br />
kita justru bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi (di mata manusia ?!)</p>
<p><strong>Masihkah kita jujur ??</strong><br />
Kalau tanpa kejujuran,<br />
kita justru akan meraih jabatan yang lebih tinggi (atau lebih basah ?!)</p>
<p><strong>Masihkah kita jujur ??</strong><br />
Kalau tanpa kejujuran,<br />
kita justru akan bisa bersenang-senang menghirup segarnya dunia (ataukah hanya kefanaannya ?!)</p>
<p><strong>Masihkah kita jujur ??</strong><br />
Kalau tanpa kejujuran,<br />
kita justru bisa menutupi aib kita sendiri (atau justru menampakkannya ?!)</p>
<p><strong>Masihkah kita jujur ??</strong><br />
Kalau tanpa kejujuran,<br />
kita justru bisa memperoleh lebih banyak teman (yang tidak jujur juga ?!)</p>
<p><span id="more-329"></span><br />
Masihkah kita jujur, kalau ternyata tanpa kejujuran pun kita justru bisa mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dibanding yang berbuat dengan kejujuran ??</p>
<p>Padahal sesuatu yang lebih baik menurut ukuran manusia itu hanyalah tipu daya dunia yang melenakan. Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa pemikul kejujuran seperti mengangkat gunung yang tinggi. Tak akan ada yang mampu kecuali orang yang kuat niatnya.</p>
<p><strong>Rasulullah SAW</strong> bersabda, <em>&#8220;Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong).&#8221;</em> <strong>(HR. Bukhari)</strong></p>
<p><strong>Masih berani kah kita tidak jujur ??</strong><br />
Karena tiada orang yang berbohong kecuali orang yang hendak menghinakan dirinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/masihkah-kita-jujur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan</title>
		<link>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/tua-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/</link>
		<comments>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/tua-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 05:08:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>niez-nya adit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Qalbu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.aditdanniez.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang bilang hidup itu pilihan. Memilih teman, memilih pasangan, memilih sahabat, sampai memilih jalan hidup. Untuk yang terakhir ini, banyaknya varian pilihan yang terbentang kadang membuat kita harus berpikir dua, tiga, atau mungkin berpuluh-puluh kali untuk memilih mana yang terbaik untuk kita. Kadang kala kita menjadi sok tau dan sok mengerti mana yang kira-kira [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2008/12/pilihan-ganda.jpg"><img class="size-full wp-image-250 alignleft" style="margin-top: 0px;" title="pilihan-ganda" src="http://www.aditdanniez.com/wp-content/uploads/2008/12/pilihan-ganda-300x300.jpg" alt="Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan" width="147" height="147" /></a>Ada yang bilang hidup itu pilihan. <a title="Memilih Teman Gaul" href="http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/teman-gaul-kita-itu.html" target="_blank">Memilih teman</a>, memilih pasangan, memilih sahabat, sampai <a title="Hidup Itu Pilihan" href="http://nieznaniez.wordpress.com/2008/01/20/hidup-itu-pilihan/" target="_blank">memilih jalan hidup</a>. Untuk yang terakhir ini, banyaknya varian pilihan yang terbentang kadang membuat kita harus berpikir dua, tiga, atau mungkin berpuluh-puluh kali untuk memilih mana yang terbaik untuk kita. Kadang kala kita menjadi sok tau dan sok mengerti mana yang kira-kira terbaik untuk kita. Padahal bisa saja ternyata pilihan itu justru membuat kita jungkir balik &#8216;di sana&#8217;.</p>
<p>Dalam hal ini, Allah telah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 216 yang artinya:</p>
<p><em>&#8220;Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.&#8221;</em></p>
<p><a title="Blognya Kang Habib" href="http://yakinku.wordpress.com/" target="_blank">Kang Habib</a> juga pernah bilang bahwa proses kita memilih diibaratkan seperti memilih sebuah tongkat. Begitu banyak tongkat yang ada di depan mata kita. Ketika kita memilih sebuah ujung tongkat, maka ujung yang sana akan mengikuti, tak bisa memilih lagi. Demikian pula hidup, kita bisa membuat ‘pilihan’, tapi konsekuensi logis di akhirat tak akan ada pilihan lagi.</p>
<p>Yang lebih parah malah tak jarang kita membiarkan pilihan untuk kita di tangan orang lain. Dengan kata lain, membiarkan orang lain yang memilih jalan hidup kita. Misalnya, membiarkan teman atau sahabat untuk memilih kegiatan untuk kita. Klo teman begini ya kita ikut begini, klo teman begitu ya kita ikut begitu. Nah, tipe yang ikut arus ini yang bahaya. Iya klo yang diikutin itu bener, lha klo salah, siyapa yang mau tanggung jawab ?! <a title="Temanku Mati Terbakar" href="http://www.dudung.net/artikel-islami/temanku-mati-terbakar.html" target="_blank">Bisa berabe kan urusannya</a>.</p>
<p><span id="more-234"></span>Dalam proses pilih-memilih ini, mungkin kita mesti tau dulu mana yang benar dan mana yang salah. Pilihan benar-salah di sini tidak lagi subjektif, karena kita udah punya tuntunan yang pas untuk dipercaya dan dijamin ga bakal salah. Yah, apalagi klo bukan Al-Qur&#8217;an dan Sunnah.</p>
<p>Masalahnya, sering kali di depan kita sudah terpampang dengan sangad jelas sebuah kebenaran yang nyata, tapi kita susah untuk mengikutinya. Misalnya suatu ketika ada teman kita yang mengajak untuk suatu kebaikan. Tapi di sisi lain, sahabat kita yang lain malah mengajak untuk mendzalimi orang tersebut. Di sini telah terlihat mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan tak disangkal klo sudah ada slentingan halus dalam hati kecil kita untuk menolaknya. Namun atas nama &#8216;setia kawan&#8217;, akhirnya kita mengikuti ajakan sahabat kita tersebut. Nah lho, udah menggantungkan pilihan hidup pada orang lain, pilihannya salah pula. Ck ck ck&#8230; <img src='http://www.aditdanniez.com/wp-content/plugins/smilies-themer/YM/33.gif' alt='[-(' class='wp-smiley' title="gambar Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan" /> </p>
<p>Menurut buku <em>Laa Tahzan for Muslimah</em>, susahnya kita untuk memilih yang benar ini berhubungan juga dengan kebersihan hati kita. Dalam buku tersebut hati kita dianalogikan seperti sebuah cermin. Cermin yang jernih dan selalu dirawat akan dengan mudah menerima cahaya dan memantulkannya. Namun cermin yang berkarat dan tak terawat akan susah untuk menerima cahaya apalagi memantulkannya. Padahal bisa jadi cahaya tersebut udah dipancarkan dengan daya yang sangat besar.</p>
<p><em>&#8220;Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.&#8221;</em> demikianlah Allah berfirman dalam surat Al-A&#8217;raf ayat 146.</p>
<p>Uhuhuu&#8230; Mudah-mudahan hati kita termasuk cermin yang jernih dan terawat yah.</p>
<p>Kesalahan dalam memilih jalan hidup ini ternyata dipengaruhi juga oleh tingkat kedewasaan seseorang. Dalam Islam, seseorang dianggap sudah dewasa ketika telah mengalami mimpi basah (<em>ikhtilam</em>) untuk pria dan menstruasi (<em>haid</em>) untuk wanita. Adit-ku bilang klo definisi yang paling sederhana untuk &#8216;dewasa&#8217; adalah mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Setelah membedakan salah-benarnya, seorang yang dewasa akan mampu berpikir jernih untuk memilih jalan hidupnya.</p>
<p>Dulu ustadz saya juga pernah bilang klo salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada kita adalah kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan nikmat tersebut seoptimal mungkin.</p>
<p>Sebuah iklan rokok menyampaikan tagline: <a title="...namun dewasa itu kebutuhan" href="http://melati-asih.web.ugm.ac.id/2006/02/02/teropong-kedewasaan-bag-2/" target="_blank">Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan</a>. Tagline ini memang berdasar pada kenyataan bahwa sangad banyak manusia yang sudah dewasa dalam hitungan umur (baca: tua), namun masih belum dewasa dalam hal pemikiran, sikap, dan pilihan hidup. Tengok saja berapa banyak orang masih melakukan hal-hal mubadzir di ujung usianya. Harusnya kita sadar bahwa waktu kita selalu dihitung mundur dengan setiap helaan nafas. Huuh&#8230;</p>
<p><strong>Jadi, ketika di depan mata kita sudah ditunjukkan mana yang haqq dan mana yang bathil, adakah pilihan untuk kita memilih selain yang haqq ?? Bersikaplah dewasa, teman. <img src='http://www.aditdanniez.com/wp-content/plugins/smilies-themer/YM/1.gif' alt=':)' class='wp-smiley' title="gambar Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan" /> <br />
</strong></p>
<p><span style="color: #c0c0c0;"><em>Jah, bicara apa sih saya ini ?? Masih anak kmaren sore kok udah sok-sokan ngomongin soal dewasa. Ngaca dulu tuh. Uhuhuu&#8230;</em></span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>*gambar diambil dari <a href="http://priyadi.net/" target="_blank">sinih</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aditdanniez.com/ruang-qalbu/tua-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>92</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
